Menggapai Kabut dan Asap Belerang di Kawah Ratu

Kawah Ratu
Kisah perjalanan tiga jurnalis Bogor menuju destinasi wisata Kawah ratu.

TIMETODAY.ID, BOGOR – Minggu, 18 Mei 2025, langit pagi masih bersahabat ketika kami memutar kunci motor dan bersiap memulai perjalanan. Pukul tujuh tepat, saya dan empat kawan berkumpul di depan Universitas Ibn Khaldun (UIKA), Kota Bogor.

Angin pagi menggigit pelan, tapi semangat kami lebih hangat dari kopi yang belum sempat diminum.

Tujuan hari itu, Kawah Ratu, sebuah destinasi wisata yang telah lama jadi perbincangan para pecinta alam. Tepat pukul delapan, kuda besi kami melaju ke arah selatan, menembus jalanan kota yang perlahan beranjak sibuk.

Sekitar satu setengah jam waktu tempuh yang kami butuhkan sebelum akhirnya tiba di pintu gerbang Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) pukul 09.30 WIB.

Biaya masuk kawasan cukup terjangkau, hanya Rp80.000 untuk satu motor berdua. Setelah registrasi, perjalanan dilanjutkan ke tempat parkir motor yang menjadi titik awal pendakian.

Di sana, kami melakukan proses simaksi (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) dengan biaya Rp20.000 per orang. Administrasi selesai, tenaga dikumpulkan, dan tepat pukul 10.00 kami mulai menyusuri jalur menuju kawah.

Pendakian menuju Kawah Ratu bukan sekadar jalan-jalan santai. Ada empat pos yang harus kami lalaui, ditambah satu spot bernama Kawah Mati sebelum benar-benar tiba di tujuan utama.

Jalur yang kami lewati didominasi tanah yang lembap, lumpur, serta bebatuan besar yang licin. Setiap langkah seperti diiringi napas hutan yang pekat, sejuk, lembap, dan sesekali terasa mistis, bikin bulu kuduk merinding.

Kami tiba di Kawah Ratu sekitar pukul 12.45 siang. Aroma belerang muali menyeruak tajam hingga menusuk hidung, dan kepulan asap putih menari di antara batu-batu hitam yang retak.

Panorama alamnya begitu dramatis, kawah luas yang memuntahkan uap, dikelilingi tebing hijau yang menjulang. Kami segera mengabadikan momen, lalu menggelar peralatan masak dan mulai menyiapkan makan siang dengan peralatan yang kami bawa.

Namun, ketenangan itu tak bertahan lama. Sekitar pukul 14.00 WIB, hujan deras tiba-tiba mengguyur. Tak ada salam, tak ada aba-aba, seolah alam memberi isyarat bahwa waktu bersantai telah usai.

Kami segera berkemas dan mulai menuruni jalur pendakian yang kini berubah menjadi lintasan lumpur yang licin dan licik.

Dengan kondisi pakaian basah, sepatu berat oleh lumpur, dan napas yang tinggal setengah, kami akhirnya tiba kembali di pos simaksi pukul 16.30 WIB.

Kotor, lelah, tapi puas. Setelah beristirahat dan menyegarkan kepala yang sempat mendidih, kami bersiap pulang. Pukul 17.30 WIB, motor kembali melaju, membawa kami pulang dengan kenangan yang tak sebentar usang.

Ini adalah perjalanan yang menguji fisik, menajamkan rasa syukur, dan mengingatkan bahwa keindahan alam kerap disembunyikan di balik lumpur, hujan, dan napas yang tersengal.

Editor : B. Supriyadi

Baca Juga :  Bukit Pupay, Destinasi Wisata Baru untuk Pecinta Petualangan di Kota Bogor

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel