TIMETODAY.ID — Setiap tahun, gema takbir menyelimuti langit fajar Idul Adha. Bukan sekadar perayaan, Hari Raya Kurban menjadi momen sakral yang penuh makna bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia. Di balik hiruk-pikuk pembagian daging dan ramainya lapak penjual hewan, terdapat jejak ketundukan, pengorbanan, dan kepedulian sosial yang mengakar dalam ibadah kurban.
Dalam ajaran Islam, ibadah kurban merupakan sunnah muakkad—amalan yang sangat dianjurkan dan telah dijalankan sejak masa Rasulullah SAW. Lewat kurban, umat Islam meneladani kisah keikhlasan Nabi Ibrahim AS ketika diperintahkan menyembelih anaknya, Ismail AS, sebagai bentuk totalitas ketakwaan kepada Allah SWT.
Namun di balik nilai spiritualnya, ada pula sejumlah ketentuan syariat yang menjadikan ibadah ini lebih dari sekadar menyembelih hewan.
Bukan Sembarang Hewan
Islam menetapkan jenis hewan tertentu untuk dikurbankan, yaitu yang termasuk hewan ternak: unta, sapi, kerbau, kambing, dan domba. Ini bukan tanpa alasan. Hewan-hewan ini telah dicontohkan Rasulullah dan menjadi simbol kemakmuran serta manfaat sosial pada zamannya.
Namun tak cukup hanya dengan jenisnya, usia hewan juga menjadi syarat utama:
- Domba: minimal 1 tahun atau sudah ganti gigi,
- Kambing: minimal 2 tahun,
- Sapi/Kerbau: minimal 2 tahun,
- Unta: minimal 5 tahun.
Usia ini menandakan kematangan fisik, yang membuat hewan layak untuk dikurbankan.
Fisik yang Sempurna, Niat yang Tulus
Ketika seseorang memilih hewan kurban, bukan hanya soal besar atau gemuknya, tetapi juga kesempurnaan fisik dan kondisi kesehatan. Hewan harus sehat, tidak cacat, dan bebas dari penyakit. Bahkan, kepemilikan pun menjadi perhatian: hewan harus milik sah orang yang berkurban, bukan hasil curian atau warisan konflik.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menyebut empat cacat yang membatalkan sahnya kurban:
- Buta sebelah dengan kebutaan yang terlihat jelas,
- Sakit dengan gejala yang tampak nyata,
- Pincang hingga terlihat jelas kepincangannya,
- Terlalu kurus hingga tidak memiliki sumsum tulang.
Memilih yang Terbaik, Bukan Sekadar Layak
Ada pula cacat-cacat ringan seperti tanduk patah atau gigi copot, yang dimakruhkan untuk kurban. Artinya, tetap sah, tapi sebaiknya dihindari. Karena sejatinya, berkurban bukan hanya menggugurkan kewajiban, tetapi memuliakan ibadah dengan memberi yang terbaik.
Dalam diam seekor domba atau sapi yang menghadap kiblat, tersirat harapan dan pengorbanan. Dagingnya memang akan dibagikan, tapi pesan sejatinya bukan tentang daging, melainkan tentang ketulusan memberi, keikhlasan melepaskan, dan rasa peduli kepada mereka yang kekurangan.
Idul Adha mengingatkan kita bahwa berkurban bukan hanya tentang apa yang kita sembelih, tapi tentang apa yang kita lepaskan dari dalam diri ego, keserakahan, dan rasa memiliki yang berlebihan. Sebab seperti kata Nabi Muhammad SAW:
“Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam [manusia] pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya”.(H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Dan di situlah, makna sejati kurban berdiam.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel





































