Demi Jakarta yang Lebih Tertib, Polisi Tangkap 14 Jukir Liar dan Pak Ogah

jakarta
Polisi menangkap 14 juru parkir liar dan pak ogah di jakarta barat (dok istimewa)
TIMETODAY.ID — Di bawah terik matahari Jakarta Barat, hiruk pikuk kendaraan dan aktivitas warga mendadak dikejutkan oleh kehadiran sejumlah petugas berseragam. Selasa (13/5/2025), di sudut-sudut rawan seperti Apotek Roxy, lampu merah Olimo, hingga perempatan Pujasera dan Mangga Besar, petugas menggiring 14 pria ke dalam mobil patroli. Mereka bukan pelaku kejahatan kelas kakap—tetapi keberadaan mereka cukup meresahkan warga: juru parkir liar dan pak ogah.
“Empat belas orang kami amankan dari berbagai lokasi rawan gangguan ketertiban,” jelas AKP Diaz Yudhistira Jananuraga, Kanit Reskrim Umum Polres Metro Jakarta Barat.mengutip dari detik.com
Aksi ini merupakan bagian dari Operasi Berantas Jaya 2025, operasi tahunan yang digelar Polri dalam rangka menumpas praktik premanisme dan gangguan ketertiban di ruang publik. Digelar dari 9 hingga 23 Mei 2025, operasi ini menyasar berbagai bentuk pemerasan, intimidasi, hingga penganiayaan yang kerap terjadi di titik-titik strategis kota.
“Hanya Menjaga Parkir” Dalih Lama di Tengah Kekacauan
Bagi sebagian masyarakat, kehadiran juru parkir liar dan pak ogah mungkin terasa biasa. Mereka melambaikan tangan di perempatan, mengarahkan mobil untuk belok, atau tiba-tiba muncul meminta ongkos parkir di depan toko tanpa izin resmi.
Namun praktik ini, menurut polisi, telah berkembang menjadi bentuk pemalakan terselubung.
Beberapa dari mereka kerap memaksa meminta uang dengan nominal tinggi, hingga bersikap kasar jika tidak diberi. Seperti yang terjadi di Jakarta Pusat, di mana sembilan juru parkir liar ditangkap karena mematok tarif hingga Rp20 ribu sekali parkir.
“Setiap orang kami data dan cek identitasnya. Kami juga memastikan apakah mereka terafiliasi dengan organisasi kemasyarakatan (Ormas),” tambah Ormas.
Memburu Premanisme Jalanan, Menciptakan Rasa Aman
Operasi Berantas Jaya bukan hanya tentang patroli dan penangkapan. Ia mencerminkan komitmen aparat untuk mengembalikan rasa aman bagi warga kota yang selama ini cenderung terbiasa hidup berdampingan dengan “ketakutan kecil” di jalan.
“Operasi ini bertujuan agar masyarakat bisa beraktivitas tanpa rasa khawatir. Kami bergerak menyeluruh di seluruh wilayah hukum Polres Jakarta Barat,” ungkap pihak kepolisian.
Dengan semakin banyaknya laporan warga soal intimidasi terselubung oleh juru parkir liar dan pak ogah, langkah penertiban seperti ini menjadi bentuk kehadiran negara yang nyata di ruang-ruang mikro tempat masyarakat bersinggungan langsung dengan praktik premanisme.
Jalan Panjang Penataan Kota
Menertibkan pak ogah mungkin hanya satu simpul kecil dari benang kusut persoalan perkotaan. Namun, ia menjadi simbol dari upaya untuk memperbaiki wajah kota: bahwa ruang publik tak boleh menjadi arena pemalakan, dan bahwa penghasilan dari jalanan bukan alasan untuk menakut-nakuti sesama warga.
Operasi Berantas Jaya masih terus berlanjut. Dan bagi masyarakat Jakarta, mungkin kini jalan pulang dari kantor terasa sedikit lebih aman—karena tak ada lagi tangan liar yang mengetuk kaca mobil dengan tatapan memaksa.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Baca Juga :  Prabowo Tinjau Langsung Fasilitas SPPG, Dorong Program Gizi Anak Berbasis Kepolisian

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel