TIMETODAY.ID — Pagi itu, Jumat (9/5/2025), suasana di barak militer Kodim 0610 Sumedang berbeda dari biasanya. Bukan pasukan berseragam yang berbaris rapi, melainkan puluhan siswa SMP yang dianggap bermasalah di lingkungan sekolah dan masyarakat. Mereka datang bersama orangtua, dengan tatapan campur aduk antara harap, ragu, dan mungkin sedikit cemas. Tapi satu hal pasti: perjalanan baru mereka dimulai.
Pemerintah Kabupaten Sumedang, bersama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, menggagas program pelatihan karakter bertajuk “Penguatan Karakter Wawasan Kebangsaan”. Program ini bukan sekadar pembinaan berbasis disiplin militer, tapi mencakup pendekatan keagamaan, keterampilan hidup, hingga pelibatan aktif orangtua.
Namun ada satu momen yang mencuri perhatian di hari pertama diklat ini: seorang siswa diberikan seekor kuda oleh Gubernur Dedi Mulyadi.
Dari Siswa Bermasalah, Jadi Penunggang Kuda Renggong
Anak itu masih duduk di bangku SMP, namun sudah akrab dengan panggung seni kuda renggong—sebuah tradisi hiburan khas Sunda yang melibatkan kuda berhias, musik, dan atraksi. Ia sering manggung demi uang, katanya, bisa mendapat hingga Rp250 ribu sekali tampil. Tapi sayangnya, hobinya itu kerap membuatnya absen sekolah.
“Daresepna manehna kuda da sieta mah,” ujar Dedi dalam bahasa Sunda yang akrab. Artinya, “memang dia senangnya kuda.” Maka, daripada memaksanya meninggalkan dunia yang dicintainya, Dedi memilih memberi solusi lain: kasih dia seekor kuda sendiri.
“Suruh urus kudanya, tetap sekolah, dan bisa main renggong di luar jam pelajaran. Seimbang,” ujarnya.
Program Diklat Unik: Dari Panca Waluya sampai Budidaya Lele
Tak hanya soal disiplin dan wawasan kebangsaan, program ini dirancang untuk mewujudkan nilai-nilai Panca Waluya dalam budaya Sunda: cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), pinter (cerdas), dan singger (terampil).
Para siswa terlebih dulu menjalani pemeriksaan medis dan kesehatan mental. Selanjutnya, mereka akan dibiasakan hidup sehat: tidur cukup, makan teratur, olahraga rutin. Di sisi lain, mereka juga dibekali keterampilan praktis, mulai dari budidaya ikan lele dalam ember, hingga menanam sayuran secara mandiri.
Untuk sisi spiritual, wawasan keagamaan akan diberikan dengan pendekatan adaptif, agar mudah diterima oleh anak-anak dengan latar berbeda.
Orangtua Ikut Dilibatkan: Belajar Parenting di Tengah Latihan Anak
Berbeda dari pelatihan sejenis di daerah lain, Sumedang memilih melibatkan orangtua secara aktif. Mereka akan mengikuti sesi parenting selama dua hari, agar paham bagaimana mendampingi dan mendidik anak setelah masa diklat berakhir.
“Jangan sampai anak berubah, tapi pulang ke rumah, lingkungannya tetap. Makanya orangtua pun harus siap,” kata Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir.
Satu Bulan Pembentukan, Untuk Masa Depan yang Berbeda
Dony mengatakan program ini akan berjalan selama satu bulan, dengan target perubahan kebiasaan dan pembentukan karakter menyeluruh. Evaluasi akan dilakukan setelah gelombang pertama ini, dan jika hasilnya baik, program akan dilanjutkan ke gelombang berikutnya.
“Banyak orangtua yang sudah mengantre, berharap anaknya bisa ikut. Ini bukan sekadar hukuman, ini tentang memberi harapan baru,” tuturnya.
Penutup
Di saat banyak pihak memilih untuk memarahi atau mencap anak-anak bermasalah sebagai “beban,” Sumedang memilih mendekap mereka lebih erat. Dari memberi mereka kuda hingga keterampilan bertani, pendekatannya sederhana tapi bermakna: memahami, bukan menghakimi.
Karena setiap anak punya potensi, hanya butuh ruang yang tepat untuk bertumbuh.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel





































