TIMETODAY.ID — Di sebuah ruko sederhana di Depok, antrean warga mengular. Bukan antre sembako, bukan juga vaksin. Tapi… scan retina mata.
Ya, kamu tidak salah baca. Di era ketika data pribadi makin berharga, sejumlah warga di Depok dan Bekasi secara sukarela memindai iris mata mereka demi mendapatkan imbalan dalam bentuk uang digital atau kripto, senilai antara Rp 250 ribu hingga Rp 800 ribu.
Dari Bola Logam ke Dompet Kripto
Prosesnya terbilang sederhana. Datang membawa KTP, isi nama dan tanggal lahir di aplikasi bernama WorldApp, lalu arahkan mata ke alat berbentuk bola logam futuristik yang disebut Orb.
Setelah pemindaian selesai, pengguna langsung menerima koin digital Worldcoin (WRLD), yang bisa dicairkan menjadi rupiah. Ini semua bagian dari proyek global Worldcoin, digagas oleh Tools for Humanity (TFH)—perusahaan rintisan yang ikut didirikan oleh Sam Altman, CEO OpenAI, sosok di balik ChatGPT.
Tujuan Mulia atau Eksperimen Sosial Global?
Tujuan Worldcoin, setidaknya di atas kertas, terdengar mulia: menciptakan identitas digital global bernama WorldID, untuk membedakan manusia sungguhan dari bot dan kecerdasan buatan. Terutama di era deepfake dan otomatisasi yang makin sulit dikendalikan.
Namun di balik visi tersebut, muncul satu pertanyaan besar: apakah aman?
Ketika Privasi Mata Jadi Komoditas
Pakar keamanan siber, Pratama Persadha, memberikan catatan penting. Ia menyebut proyek ini bukan scam, karena pendirinya adalah nama-nama terpercaya di dunia teknologi. Namun, yang menjadi kekhawatiran utama adalah pengelolaan data biometrik sensitif, khususnya iris mata manusia.
“Kalau untuk apa data itu digunakan, kita belum tahu. Itu yang jadi pertanyaan,” ujarnya dalam diskusi di kanal YouTube Kompas.com.
Masalahnya, iris mata bukan seperti password. Kalau bocor, tidak bisa diganti.
Privasi vs Imbalan Instan: Pilihan atau Perangkap?
Dengan iming-iming uang cepat, banyak warga tergoda. Apalagi di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, data biometrik seolah menjadi mata uang baru—bahkan sebelum orang benar-benar memahami risikonya.
Fenomena ini mungkin menjadi penanda zaman: ketika tubuh manusia bukan hanya identitas, tapi juga aset digital.
Ke Mana Arah Dunia Digital Kita?
Worldcoin menjanjikan dunia yang lebih terverifikasi dan lebih manusiawi di tengah gelombang AI. Tapi seperti halnya setiap lompatan teknologi, selalu ada harga yang harus dibayar.
Pertanyaannya tinggal satu: apakah kita sudah siap menukarkan privasi paling dalam kita—mata—dengan beberapa ratus ribu rupiah?
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel





































