TIMETODAY.ID — Di tengah eskalasi ketegangan teknologi antara Amerika Serikat dan China, Washington bersiap meluncurkan gebrakan baru: pelacakan global terhadap chip-chip kecerdasan buatan (AI) buatan Amerika, bahkan setelah chip itu resmi dijual ke pasar.
Rencana ini dilontarkan oleh anggota parlemen Partai Demokrat, Bill Foster, yang tengah menggodok rancangan undang-undang (RUU) untuk melacak keberadaan chip AI, termasuk yang diproduksi raksasa seperti Nvidia. Tujuannya satu: mencegah bocornya chip-chip canggih ke tangan China—musuh utama dalam perang dagang teknologi lintas rezim dari era Donald Trump hingga Joe Biden.
Mengapa AS Bertindak Ekstra?
Langkah ini muncul setelah laporan bahwa chip Nvidia berhasil diselundupkan ke China, meski larangan ekspor teknologi tinggi sudah diberlakukan selama bertahun-tahun. Ironisnya, sistem AI mutakhir seperti DeepSeek yang dikembangkan Beijing justru diduga memakai chip-chip yang seharusnya tidak mereka miliki.
“Ini bukan masalah imajinatif di masa depan. Ini masalah nyata sekarang,” tegas Foster, Selasa (6/5/2025).
Nvidia Tak Bisa (atau Tak Mau) Melacak Chipnya?
Meski Nvidia mengaku tidak punya teknologi untuk melacak chip setelah dijual ke konsumen, sejumlah pakar mengatakan sebaliknya. Chip-chip modern, termasuk seri A100 dan H100, sejatinya sudah memiliki teknologi pelacakan yang tertanam — hanya saja mungkin belum diaktifkan untuk kepentingan geopolitik.
Pasar China: Dilarang Tapi Diincar
China bukan pasar kecil. Dalam laporan fiskal terakhir Nvidia (hingga 26 Januari 2025), China menyumbang US$17 miliar atau 13% dari pendapatan global. Jika akses benar-benar ditutup, Nvidia bisa kehilangan salah satu pasar terpentingnya.
Namun, demi menjaga hubungan dan pemasukan, Nvidia dilaporkan sedang mengembangkan chip AI versi “legal ekspor” yang bisa dijual ke China tanpa melanggar batasan pemerintah AS. Para klien besar seperti Alibaba, ByteDance, dan Tencent dikabarkan sudah menerima kabar ini lebih awal.
Harga yang Harus Dibayar: Nvidia Berdarah, China Melaju
Larangan yang diperketat ternyata menjadi bumerang bagi AS. Sepanjang 2025, saham Nvidia sudah anjlok hampir 25%, terdampak oleh pasar yang terpaksa mereka tinggalkan. Sementara itu, Beijing menjadikan blokade ini sebagai pemicu percepatan swasembada teknologi, menggenjot pengembangan chip domestik dan sistem AI lokal.
Pertaruhan Besar: Dominasi atau Isolasi?
AS kini berada di persimpangan kebijakan: menjaga dominasi teknologi global atau mempertahankan kontrol politik atas distribusi produknya. Yang jelas, perang chip ini tak lagi sekadar soal dagang — melainkan pertarungan ideologi, pengaruh global, dan masa depan AI dunia.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel








































