TIMETODAY.ID, BOGOR – Setiap langkah di atas Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Paledang Kota Bogor seperti menapaki jejak-jejak kelam masa lalu. JPO yang sejak lama menjadi bagian dari kehidupan warga kota ini, kini mulai dilupakan, digantikan oleh harapan baru yang menjanjikan keselamatan dan kenyamanan. Pemerintah Kota Bogor tengah berusaha menggantinya dengan pelican crossing, langkah kecil yang diharapkan akan membawa perubahan besar.
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, mengungkapkan bahwa sejak awal, JPO Paledang memang tak pernah lepas dari masalah.
“JPO Paledang itu sejak awal selalu menyisakan masalah. Bukan hanya soal keselamatan konstruksi dan elevasi tangga yang terlalu curam, tetapi juga masalah keamanan dan sosial,” ujarnya, Belum lama ini.
Bagi warga yang telah lama berinteraksi dengan JPO tersebut, Paledang bukan hanya sebuah jembatan, tetapi simbol dari ketidaknyamanan. Tangga yang curam seperti jalan berliku penuh risiko, membawa cerita-cerita tak mengenakkan, seperti yang disebut-sebut dengan istilah “JPO aborsi.”
Sebuah julukan yang muncul setelah kabar beredar bahwa ibu hamil sering kali mengalami keguguran setelah menaiki tangga tersebut, sebuah tragedi yang mencerminkan betapa bahayanya desain jembatan itu.
Lebih jauh lagi, JPO ini tak hanya menjadi tempat untuk melintasi jalan raya yang sibuk, tetapi juga titik rawan kejahatan. Aksi pencopetan kerap terjadi di sana, seolah JPO ini menjadi zona yang menunggu untuk dimanfaatkan oleh tangan-tangan nakal.
Tak hanya itu, keberadaan pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di sekitar area ini membuat kawasan tersebut semakin semrawut dan penuh kekumuhan, menjadikan Paledang bukan hanya jembatan, tetapi juga tempat yang penuh ketidaknyamanan bagi warga yang melewatinya.
Dedie menyebut pelican crossing merupakan konsep penyeberangan yang mengutamakan keselamatan pejalan kaki dan mengurangi kemacetan, sebuah terobosan yang mengadopsi kebijakan di kawasan Sudirman-Thamrin, Jakarta, di mana beberapa JPO dihapus dan digantikan dengan zebra cross yang dilengkapi dengan lampu lalu lintas.
Konsep ini telah diterapkan di banyak kota modern di dunia, di mana keselamatan dan kenyamanan menjadi prioritas utama.
“Langkah rencana bertahap akan dilakukan pembersihan dan penghilangan kekumuhan JPO Paledang sebelum diganti dengan pelican crossing, dimulai dengan pemangkasan atap,” jelas Dedie,.
Tujuannya, agar tidak lagi menjadi tempat mangkal PKL, sambil menunggu kajian penghapusan aset dan pergantian dengan penyeberangan yang lebih aman
“Kami ingin menghadirkan fasilitas penyeberangan yang lebih layak dan humanis bagi warga. Ini bukan hanya soal mengganti JPO, tetapi juga soal memberikan kenyamanan bagi setiap orang yang melintas,” tambah Dedie menutup wawancara.
Editor: B. Supriyadi





































