TIMETODAY.ID — China kembali menunjukkan sikap keras dalam menghadapi tekanan perdagangan dari Amerika Serikat. Melalui pernyataan tegas yang dilansir Al Jazeera, Senin (21/4/2025), Beijing memperingatkan negara-negara yang mempertimbangkan kesepakatan dagang dengan Washington yang dapat merugikan kepentingannya.
“Setiap negara yang berpihak pada AS akan menghadapi tindakan balasan yang tegas dan timbal balik,” ujar juru bicara Kementerian Perdagangan Cina.
Langkah ini merupakan respons terhadap strategi baru pemerintahan Presiden Donald Trump, yang tengah berupaya membentuk blok dagang anti-Cina dengan menekan lebih dari 70 negara agar membatasi hubungan perdagangan dengan Beijing. Sebagai imbalan, negara-negara tersebut dijanjikan pengurangan tarif dan akses ekspor yang lebih longgar ke pasar AS.
Perang Tarif Tak Berujung
Sejak Trump menaikkan tarif atas sebagian besar produk Cina hingga 145 persen awal April lalu, Beijing merespons dengan mengenakan bea masuk hingga 125 persen pada barang-barang AS. Ketegangan ini menambah panjang daftar friksi ekonomi antara dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia tersebut.
Trump berulang kali menyebut Cina sebagai pihak yang mengeksploitasi AS dalam perdagangan global. Ia mengklaim tarif tinggi diperlukan untuk menyelamatkan industri manufaktur dalam negeri dan menciptakan lapangan kerja. Trump bahkan mengisyaratkan akan menggunakan pendapatan dari tarif untuk mendanai pemotongan pajak.
Negara-negara di Persimpangan
Posisi negara-negara mitra dagang AS dan Cina kini kian rumit. Negara seperti Jepang, Korea Selatan, hingga Indonesia tengah menimbang tawaran Washington, meskipun mereka juga sangat bergantung pada pasokan dari Cina.
DW mencatat bahwa Jepang siap meningkatkan impor kedelai dan beras dari AS, sementara Korea Selatan menawarkan kerja sama di sektor LNG dan pembuatan kapal. Indonesia dilaporkan bersedia menambah pembelian komoditas AS, sementara India dan Uni Eropa juga ikut dalam pembicaraan dengan Gedung Putih untuk menghindari potensi sanksi tarif.
Namun, sebagian besar negara tidak bisa dengan mudah meninggalkan hubungan dagang mereka dengan Cina. Data dari Lowy Institute menunjukkan bahwa pada 2023, sekitar 70 persen negara mengimpor lebih banyak barang dari Cina dibanding dari AS. Bahkan Uni Eropa kini mencatat defisit perdagangan sebesar €396 miliar dengan Cina, hampir dua kali lipat dibanding 2016.
Xi Jinping Serukan Persatuan Regional
Presiden Cina Xi Jinping pun tak tinggal diam. Dalam kunjungan ke Asia Tenggara baru-baru ini, ia menyerukan kerja sama regional untuk menolak tekanan sepihak. Di Vietnam, Xi menyatakan bahwa “tak ada pemenang dalam perang dagang,” menegaskan posisinya tanpa menyebut langsung Amerika Serikat.
Negara-negara seperti Vietnam kini menjadi lokasi strategis, baik sebagai mitra manufaktur alternatif bagi AS maupun sebagai tempat transit ekspor Cina untuk menghindari tarif.
Strategi yang Gagal?
Meski Trump mengklaim tarif dapat mengurangi ketergantungan terhadap Cina, sejumlah analis meragukan efektivitas pendekatannya. Alicia Garcia-Herrero, ekonom Natixis, menyebut bahwa dominasi Cina dalam rantai pasok global terlalu luas untuk dihentikan hanya dengan tekanan tarif.
“Trump tampaknya tidak memahami betapa pentingnya arus perdagangan dari Cina. Tanpa memberikan insentif nyata, ia kecil kemungkinan akan berhasil membujuk negara lain untuk berpaling dari Beijing,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa negara-negara yang merasa tertekan justru bisa semakin dekat ke Cina. “Semakin Trump mengancam, semakin banyak negara yang memilih berpegangan pada tangan Cina.”***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel








































