TIMETODAY.ID — Selama bertahun-tahun, opini publik Amerika Serikat terhadap China diliputi sentimen negatif. Pandangan keras, tuduhan ekonomi yang tidak adil, hingga anggapan sebagai “musuh utama” AS telah mengendap lama di benak banyak warga Negeri Paman Sam.
Namun, di tengah tensi geopolitik yang tak kunjung reda, justru muncul sebuah temuan menarik—sikap keras itu kini mulai melunak. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, masyarakat Amerika mulai menunjukkan gejala perubahan.
Melansir Radio Free Asia, Senin (21/4/2025), Pew Research Center yang berbasis di Washington merilis hasil survei terbaru yang mencatat penurunan signifikan dalam jumlah warga yang memandang China sebagai ancaman.
Menurut survei yang dilakukan pada akhir Maret lalu dan dirilis 17 April, hanya 33% warga Amerika kini menganggap China sebagai “musuh”, turun cukup tajam dari 42% pada tahun sebelumnya. Angka ini bahkan menjadi titik terendah sejak tren kenaikan tajam sentimen negatif terhadap China dimulai pada 2017.
“Sebanyak 77% warga Amerika masih memiliki opini yang tidak baik terhadap China, tetapi angka ini menurun dari 81% pada 2024,” demikian bunyi laporan Pew. Ini menjadi penurunan year-over-year pertama yang signifikan dalam hampir satu dekade.
Faktor di Balik Perubahan
Perubahan sikap ini muncul di tengah peningkatan ketegangan dagang antara kedua negara. Sejak Presiden Donald Trump kembali menaikkan tarif hingga 145% untuk produk impor dari China, Beijing pun membalas dengan langkah serupa.
Namun uniknya, masyarakat justru mulai merasa bahwa strategi saling balas tarif ini lebih merugikan dibanding menguntungkan. Survei menunjukkan lebih dari separuh responden percaya bahwa kebijakan tarif tinggi akan berdampak buruk bagi ekonomi AS dan kehidupan pribadi mereka.
Dalam hal kepemimpinan global, mayoritas warga AS (75%) juga menyatakan memiliki “sedikit atau tidak ada” kepercayaan terhadap Presiden Xi Jinping dalam menangani urusan internasional.
Polarisasi Usia dan Politik
Tanggapan atas China ternyata juga sangat dipengaruhi usia dan afiliasi politik.
“Orang dewasa yang lebih tua lebih sering menyebut China sebagai musuh dibanding yang lebih muda,” kata Pew dalam laporannya. Sebanyak 47% warga berusia 65 tahun ke atas dan 40% dari usia 50–64 tahun memandang China sebagai musuh. Bandingkan dengan kelompok usia 18–29 tahun, yang hanya 19% menyuarakan pendapat serupa.
Anak muda cenderung melihat China bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai “pesaing”—sebuah pergeseran sudut pandang yang menarik. Sebanyak 61% responden muda menyatakan hal ini, menandakan ada harapan untuk hubungan bilateral yang lebih realistis dan tak melulu didasari ketegangan.
Dari sisi politik, perbedaan juga terlihat. Meski Partai Republik secara historis lebih kritis terhadap China, data menunjukkan bahwa sikap mereka pun melunak. Persentase Republikan yang memiliki opini “sangat tidak baik” terhadap China turun drastis 16 poin, dari 59% menjadi 43%.
Demokrat pun mengalami penurunan sikap negatif, meski dalam skala yang lebih kecil: dari 30% menjadi 24% yang menyatakan memiliki opini “sangat tidak baik”.
Antara Strategi dan Sentimen
Di balik perubahan data ini, muncul pertanyaan penting: apakah pelunakan sikap ini mencerminkan keinginan warga Amerika untuk meredam ketegangan dengan China? Atau sekadar respons terhadap kebijakan ekonomi yang dianggap merugikan mereka sendiri?
Yang jelas, survei ini memberikan gambaran bahwa pandangan publik terhadap negara lain bukanlah sesuatu yang statis. Ia berubah seiring waktu, peristiwa, dan generasi.
Dan mungkin, di tengah sorotan panas hubungan dua raksasa dunia ini, ada ruang kecil untuk harapan—bahwa diplomasi bisa lebih mengemuka dibanding permusuhan.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel








































