TIMETODAY.ID — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menunjukkan ketegasan yang luar biasa dalam upayanya memberantas praktik mafia di sektor pangan.
Dalam pidatonya yang disampaikan pada acara wisuda Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Amran menceritakan sebuah insiden yang menegaskan sikapnya yang teguh terhadap pengusiran mafia pangan.
“Saya pernah ditegur Wakil Presiden karena menutup sebuah perusahaan yang kami duga kuat dikendalikan oleh mafia beras. Ternyata, yang ada di dalamnya adalah pemimpin-pemimpin besar,” ungkap Amran, mengingat kembali peristiwa yang terjadi dalam pemerintahan. Meski mendapat teguran dari pejabat tinggi negara, Amran tetap bersikukuh dengan keputusannya.
“Kami katakan yang penting kami sudah tutup, karena mereka melanggar regulasi yang ada di Republik ini,” tegasnya.
Sebagai Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Unhas, Amran kembali menggarisbawahi komitmennya untuk membersihkan sektor pertanian dari mafia yang selama ini memanipulasi harga dan distribusi.
Ia menyampaikan hal ini di hadapan para wisudawan, dengan menegaskan bahwa sektor pertanian harus bebas dari pengaruh negatif yang merugikan masyarakat.
“Kami ingin bersihkan sektor pertanian di Republik ini, karena kami ingin kalian melanjutkan ini nanti,” kata Amran dengan penuh semangat kepada para wisudawan yang hadir.
Dalam kesempatan tersebut, Amran juga mengungkapkan langkah konkret yang telah diambil untuk memberantas mafia pangan.
“Kami sudah ambil langkah terhadap 50 orang yang terlibat dalam mafia pangan, termasuk mafia beras, pupuk, dan minyak goreng. Dari 50 orang itu, 20 di antaranya sudah ditetapkan sebagai tersangka,” ujarnya. Amran menegaskan bahwa tindakan tegas terhadap pelaku mafia pangan harus dilakukan tanpa pandang bulu.
“Mereka yang ingin mempermainkan nasib rakyat kecil akan kami kirim ke nerakanya dunia,” ujar Amran dengan lantang. Bahkan, ia mengungkapkan bahwa beberapa pejabat di lingkungan Kementerian Pertanian telah dipecat karena terlibat dalam jaringan mafia tersebut.
“Salah satu keluarga pejabat yang saya pecat, dan setelah saya pecat, barulah saya tahu tentang keterlibatannya,” lanjutnya.
Amran tidak hanya berbicara soal pembersihan sektor pangan dalam negeri, namun juga mencatatkan keberhasilan Indonesia dalam menghadapi krisis pangan global. Menurutnya, Indonesia justru mengalami kemajuan yang signifikan menuju swasembada pangan.
“Tahun ini, pertumbuhan produksi pertanian kita tercatat pada angka tertinggi sepanjang sejarah kemerdekaan, yaitu 16,62 persen,” ungkap Amran, merujuk pada data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS).
Menutup pidatonya, Amran mengingatkan bahwa ketahanan pangan adalah pilar utama yang menopang stabilitas nasional.
“Bayangkan jika harga beras naik hanya Rp20.000, negara ini bisa dalam keadaan terancam. Saya selalu katakan, jika sektor pertanian bermasalah, negara juga akan bermasalah,” pungkasnya.
Dengan langkah tegas yang diambilnya, Amran Sulaiman berusaha memastikan bahwa sektor pangan Indonesia bebas dari mafia dan berkomitmen untuk menjaga ketahanan pangan sebagai jaminan masa depan bangsa.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel





































