TIMETODAY.ID — Di tengah upaya merombak wajah kebijakan luar negeri Amerika Serikat, pemerintahan Donald Trump dikabarkan tengah menyusun rencana besar: menutup 27 misi diplomatik di berbagai penjuru dunia.
Sebuah langkah mengejutkan yang digambarkan sebagai bagian dari upaya efisiensi dan pemangkasan anggaran besar-besaran di tubuh Departemen Luar Negeri.
Laporan eksklusif CNN yang mengutip dokumen internal Departemen Luar Negeri mengungkap bahwa daftar penutupan tersebut mencakup 10 kedutaan besar dan 17 kantor konsulat. Negara-negara seperti Malta, Luksemburg, Jerman, dan Prancis termasuk di antara lokasi yang masuk dalam daftar.
Informasi serupa juga diperoleh oleh New York Times. Meski dokumen itu tidak menyebutkan tanggal pasti penutupan, surat kabar tersebut menekankan bahwa langkah ini merupakan bagian dari restrukturisasi besar yang diusung Gedung Putih untuk memangkas anggaran diplomasi hampir setengahnya.
Penutupan tak hanya menyasar negara-negara besar di Eropa. Wilayah Afrika justru menjadi salah satu kawasan yang paling terdampak. Kedutaan besar di Republik Afrika Tengah, Eritrea, Gambia, Lesotho, Republik Kongo, dan Sudan Selatan dilaporkan sebagai yang paling mungkin ditutup.
Negara kecil lainnya seperti Luksemburg, Grenada, Malta, dan Maladewa juga masuk dalam rekomendasi pengurangan misi diplomatik, seperti dilaporkan MSN pada Jumat (18/4/2025).
Tak berhenti di situ, rencana tersebut turut mencakup penutupan sejumlah konsulat di kawasan wisata populer Eropa: lima di Prancis (Bordeaux, Lyon, Marseille, Rennes, dan Strasbourg), dua di Jerman (Dusseldorf dan Leipzig), serta dua lainnya di Bosnia dan Herzegovina (Mostar dan Banja Luka). Beberapa kantor konsulat lainnya juga tengah dipertimbangkan untuk ditutup, seperti:
-
Thessaloniki, Yunani
-
Florence, Italia
-
Ponta Delgada, Portugal
-
Edinburgh, Skotlandia
Di luar Eropa, empat konsulat yang berlokasi di negara-negara strategis juga tak luput dari sorotan:
-
Douala, Kamerun
-
Medan, Indonesia
-
Durban, Afrika Selatan
-
Busan, Korea Selatan
Dalam dokumen yang sama, diusulkan pula agar tanggung jawab diplomatik dari kantor-kantor yang ditutup dialihkan ke misi di negara tetangga. Tak hanya itu, keberadaan Kedutaan AS di Mogadishu, Somalia juga disebut akan dikurangi atau bahkan ditutup. Pusat Dukungan Diplomatik di Baghdad, Irak, turut masuk dalam daftar penghematan. Penulis memo juga menyarankan agar misi diplomatik di Baghdad dan Erbil dipangkas anggarannya.
Masih dari laporan New York Times, dokumen tersebut juga mengusulkan penggabungan beberapa konsulat menjadi satu atap, terutama di negara-negara seperti Jepang dan Kanada, yang memiliki banyak kantor diplomatik.
Namun, di balik semua rencana itu, tak banyak komentar resmi yang diberikan oleh pihak pemerintah. Juru bicara Departemen Luar Negeri, Tammy Bruce, menolak memberikan keterangan lebih lanjut. “Kami tidak mengomentari dokumen internal,” ujarnya singkat saat dimintai tanggapan.
Langkah ini, jika direalisasikan, akan menjadi salah satu restrukturisasi terbesar dalam sejarah diplomasi modern Amerika Serikat. Sebuah keputusan yang bisa memengaruhi wajah diplomasi global sekaligus relasi Amerika dengan banyak negara sahabat.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel








































