Demam Matcha Global: Nikmatnya Meningkat, Pasokannya Menipis

Matcha
Matcha (istock)

TIMETODAY.IDMatcha minuman teh hijau bubuk asal Jepang yang kini mendunia—sedang berada di puncak popularitas. Dari kedai kopi trendi di New York hingga restoran fushion di Sydney, matcha menjelma menjadi ikon rasa, gaya hidup, sekaligus simbol “minum sehat”. Tapi di balik geliatnya yang menggoda lidah, ada realita lain yang mulai mengemuka: kelangkaan pasokan.

Mengutip laporan The Guardian, sumber terbaik matcha berasal dari Uji, sebuah kota kecil di Kyoto, Jepang. Uji bukan hanya dikenal sebagai penghasil teh, tapi disebut-sebut sebagai tempat kelahiran matcha. Daun teh Camellia sinensis yang tumbuh di sana dikenal memiliki kualitas tinggi—lembut di mulut, namun menyimpan sentuhan pahit khas yang memikat penggemarnya.

Bagi penikmat sejati, label “matcha dari Uji” bukan sekadar keterangan asal. Itu adalah jaminan mutu. “Saya kurang lebih sudah berhenti minum kopi dan sekarang hanya minum matcha. Tidak seperti kopi. Tidak membuat saya gelisah, malah membuat saya lebih fokus,” kata Stephen Blackburn, seorang turis asal New York yang tengah berlibur di Jepang.

Advertisement
Baca Juga :  Ube Salip Matcha? Tren Kuliner Global 2026 Beralih ke Umbi Ungu Filipina

Lonjakan Global, Tekanan Lokal

Setelah pandemi mereda, kota Uji kembali hidup. Wisatawan asing berdatangan, dan bisnis bertema matcha bermekaran di seluruh penjuru kota. Namun, antusiasme global terhadap segala hal yang berbau matcha juga membawa tantangan. Sejak musim gugur lalu, kelangkaan pasokan mulai terasa.

Perusahaan teh di Kyoto bahkan mulai membatasi pembelian matcha untuk menjaga ketersediaan. Pemicunya tak lain adalah permintaan tinggi dari pasar luar negeri, khususnya Eropa, Amerika Serikat, dan Australia.

Sementara itu, ironisnya, konsumsi teh hijau di Jepang sendiri justru menurun, terutama dalam bentuk daun teh biasa seperti sencha.

Baca Juga :  Infused Water hingga Teh Hijau: 12 Minuman Sehat yang Harus Ada di Rutinitas Harian Anda

Pasar global matcha diperkirakan akan melonjak dari US$ 2,8 miliar (2023) menjadi US$ 5 miliar pada 2028. Kementerian pertanian Jepang mencatat, produksi matcha mencapai 4.176 ton pada 2023—hampir tiga kali lipat dari angka pada 2010.

Langkah Pemerintah: Dari Sencha ke Tencha

Melihat potensi ekspor yang begitu besar, pemerintah Jepang kini tengah mempertimbangkan subsidi untuk mendorong para petani agar beralih dari produksi sencha ke tencha, yaitu daun teh khusus yang digiling menjadi matcha.

Upaya ini diharapkan bisa menjaga keseimbangan antara kualitas, kuantitas, dan warisan tradisi. Karena di balik setiap secangkir matcha, tersimpan cerita panjang tentang tanah, petani, dan budaya yang menjaganya sejak berabad-abad lalu.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel