Nilai Tukar Rupiah Bangkit dari Titik Terendah, BI Lakukan Intervensi Pasar

Nilai tukar rupiah
Ilustrasi/freepik.com

TIMETODAY.ID, JAKARTANilai tukar rupiah menunjukkan penguatan pada pembukaan perdagangan Kamis (10/4/2025) pagi, naik 40 poin atau 0,24 persen menjadi Rp16.833 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp16.873. Penguatan ini muncul setelah rupiah sempat tertekan ke level terendah dalam sejarah pada awal pekan.

Pada perdagangan non-deliverable forward (NDF) Senin (7/4), rupiah sempat menyentuh Rp17.261 per dolar AS. Pelemahan tersebut dipicu oleh sentimen negatif eksternal, terutama kebijakan tarif balasan yang diumumkan Presiden AS Donald Trump terhadap sejumlah negara mitra dagang, termasuk Indonesia.

Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan eskalasi perang dagang, yang mendorong investor global mengalihkan dananya ke aset-aset aman seperti dolar AS dan emas. Hal ini memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.

Advertisement
Baca Juga :  BI Siapkan 4.173 Titik Lokasi Penukaran Uang Baru

Menanggapi tekanan tersebut, Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi di tiga pasar sekaligus: pasar spot valuta asing, pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar sekunder Surat Berharga Negara (SBN), guna menjaga likuiditas dan mengurangi volatilitas.

“BI fokus menjaga stabilitas, bukan mengejar level tertentu. Intervensi dilakukan sesuai kebutuhan pasar,” ujar Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso dikutip dari portalbanten.net

Baca Juga :  Rupiah Melemah di Awal Perdagangan, Dolar AS Bertengger di Rp17.487

BI menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak mencerminkan melemahnya fundamental ekonomi nasional, melainkan lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti kebijakan proteksionis dan ketegangan geopolitik global.

Meskipun pemulihan nilai tukar rupiah masih bersifat terbatas dan penuh kehati-hatian, penguatan dalam beberapa hari terakhir dinilai sebagai sinyal positif terhadap respons kebijakan yang dilakukan otoritas moneter.

Pemerintah dan BI diharapkan terus memperkuat sinergi kebijakan lintas sektor untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global. ***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel