Malioboro Saat Lebaran: Lautan Manusia, Hiruk Pikuk, dan Romantika Liburan Keluarga

Malioboro
Malioboro Saat Lebaran: Lautan Manusia foto: TikTok @ayu_sinlie

TIMETODAY.ID — Libur Lebaran selalu membawa cerita—tentang rindu yang terbayar, tawa yang terlepas, dan jalan-jalan yang mendadak sesak. Tahun ini, salah satu kisah paling ramai datang dari jantung kota Yogyakarta: Malioboro. Kawasan yang tak pernah benar-benar tidur ini, kembali jadi magnet jutaan langkah yang datang dari berbagai penjuru.

Dalam sebuah video yang viral di TikTok, akun @ayu_sinlie membagikan momen yang bikin banyak warganet mengernyit sekaligus tersenyum. “Pejalan kaki aja gak bisa jalan,” tulisnya. Kalimat sederhana itu menggambarkan segalanya. Kamera ponselnya merekam ribuan orang yang berjalan berdesakan, mengalir seperti sungai manusia di sepanjang Malioboro.

Tak hanya pejalan kaki yang terjebak. Mobil, motor, bahkan sepeda pun nyaris tak bergerak. Kepadatan itu menciptakan kemacetan yang nyaris seperti lautan diam. Tapi meski sesak dan gerah, tak sedikit yang tetap tersenyum sambil menggandeng anak-anak kecil mereka—menikmati semarak Lebaran di kota yang kaya sejarah dan rasa ini.

Advertisement

Lebaran di Tengah Riuhnya Malioboro

Tentu saja, Malioboro punya magnet sendiri. Jejeran toko oleh-oleh, deretan penjual gudeg, suara musisi jalanan, dan aroma sate klathak dari sudut-sudut jalan—semuanya berbaur jadi satu. Banyak keluarga menjadikan kawasan ini sebagai destinasi wajib, sebuah ritus tahunan yang tak tertulis.

Baca Juga :  Haul Akbar ke-92 Mbah Muhyiddin, Jaro Ade Sampaikan Usulan Makam Jadi Cagar Budaya

Akun TikTok @lyfimied juga ikut membagikan keramaian serupa di sekitar Stasiun Tugu Yogyakarta. Bahkan ia menulis dengan nada bercanda, “Udah paling bener rebahan aja di rumah.” Tapi seperti biasa, candaan semacam itu justru jadi bukti betapa ramainya Jogja saat libur panjang.

Tak Hanya Malioboro, Jogja Punya Banyak Cerita

Meski Malioboro jadi primadona, kota Gudeg ini sebenarnya menyimpan segudang pilihan wisata lain. Di dekatnya, Museum Benteng Vredeburg kini tampil lebih segar. Setelah renovasi, museum ini bukan hanya tempat belajar sejarah, tapi juga jadi spot rekreasi kekinian dengan area hijau yang nyaman dan kafe estetik di dalamnya.

Masih belum puas? Coba arahkan langkah ke Sindu Kusuma Edupark (SKE). Di sini, kamu bisa naik Cakra Manggilingan, bianglala raksasa tertinggi di Indonesia yang menawarkan pemandangan 360 derajat dari ketinggian. Meski belum setinggi Singapore Flyer, sensasi dan panoramanya tak kalah memukau.

Lalu ada HeHa Ocean View, destinasi yang cocok untuk pencinta laut dan senja. Dari atas tebing, kamu bisa bersantai, berfoto, atau sekadar menikmati semilir angin laut. Kalau kamu lebih suka city view, tinggal mampir ke “saudaranya,” HeHa Sky View.

Baca Juga :  Gempa Bumi Magnitudo 4,4 Guncang Yogyakarta Hari Ini, Tidak Berpotensi Tsunami

Ingin wisata sambil kulineran dan cari oleh-oleh? House of Bakpiaku di Sleman bisa jadi pilihan. Baru dibuka akhir 2024, tempat ini langsung hits berkat desainnya yang estetik dan family-friendly. Ada playground untuk anak-anak, kafe dengan gelato, dan bakery dengan aroma yang menggoda.

Jogja, Meski Ramai Tetap Dirindukan

Ya, mungkin ada yang memilih rebahan di rumah karena tak tahan dengan keramaian. Tapi tetap saja, Jogja punya daya tarik yang tak bisa dikesampingkan. Entah itu karena kulinernya, keramahan warganya, atau kenangan yang pernah terukir di sudut-sudut jalannya.

Malioboro saat Lebaran mungkin terlalu ramai untuk sebagian orang, tapi di sanalah kita bisa melihat denyut kehidupan yang utuh: canda tawa keluarga, langkah-langkah kecil anak-anak, dan tatapan penuh rasa dari para perantau yang pulang sejenak.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel