TIMETODAY.ID — Setelah mengalami tren pelemahan selama empat hari berturut-turut, harga batu bara akhirnya kembali menguat dan menembus angka US$100 per ton. Penguatan ini terjadi di tengah langkah Glencore yang memangkas produksi dari tambang batu bara mereka.
Dilansir dari Refinitiv, pada 26 Maret 2025, harga batu bara tercatat sebesar US$100,4/ton, naik 2,19% dibandingkan penutupan perdagangan sehari sebelumnya yang berada di angka US$98,25/ton.
Langkah Glencore untuk mengurangi produksi dari tambang batu bara Cerrejón menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan harga ini.
Perusahaan tersebut mengumumkan pada Selasa lalu bahwa mereka akan memangkas produksi hingga lima hingga 10 juta ton dari perkiraan awal. Dengan pemangkasan ini, produksi Cerrejón diperkirakan hanya mencapai 11 hingga 16 juta ton sepanjang tahun ini.
“Alasan utama pemangkasan ini didorong oleh harga batu bara termal laut yang tidak berkelanjutan,” ujar Glencore dalam sebuah artikel Bloomberg News.
Sebagai raksasa komoditas asal Swiss, Glencore telah lama menerapkan strategi penyesuaian produksi berdasarkan harga pasar. Jika harga batu bara melemah, mereka akan mengurangi produksi demi menjaga keseimbangan pasar.
Sejak mengakuisisi penuh saham Cerrejón dari Anglo American dan BHP pada 2021, langkah-langkah serupa telah mereka lakukan untuk menyesuaikan produksi dengan dinamika harga global.
Sementara itu, harga futures batu bara Newcastle Australia juga mengalami penurunan hingga ke kisaran US$100 per ton, turun sekitar 20% sejak awal tahun.
Padahal, pada September 2022, harga batu bara sempat menyentuh rekor lebih dari US$450 per ton akibat dampak invasi Rusia ke Ukraina. Sejak saat itu, aktivitas pertambangan meningkat karena lonjakan harga dan kekhawatiran akan keamanan energi global.
Di sisi lain, prospek batu bara ke depan masih dipandang suram oleh sejumlah analis. Bank of America, dalam laporannya, menyebutkan bahwa pemulihan harga dalam waktu dekat masih sulit terlihat.
“Kami tidak melihat tanda-tanda pemulihan harga dalam waktu dekat,” ujar bank tersebut terkait pasar batu bara China, yang pada 2024 menyumbang sekitar 219 juta ton atau seperlima dari total perdagangan laut global.
Meski demikian, CEO Glencore Gary Nagle tetap optimis terhadap masa depan industri batu bara.
“Batu bara bukan lagi sesuatu yang tabu,” ungkapnya dalam presentasi akhir tahun perusahaan pada Februari lalu. “Di dunia saat ini, keseimbangan telah bergeser dan mengakui bahwa batu bara energi tetap dibutuhkan selama transisi energi berlangsung.”
Optimisme ini turut didukung oleh permintaan batu bara yang tetap kuat di India dan Asia Tenggara, meskipun konsumsi di Eropa mulai menurun. Bank of America juga menyoroti pergeseran ekonomi global yang kini mulai bergeser dari China. “Seiring dengan kemajuan energi terbarukan, perlu dicatat bahwa mesin ekonomi global kini mulai beralih dari China,” tambahnya.
Data terbaru dari Badan Energi Internasional (IEA) menunjukkan bahwa pangsa konsumsi batu bara global di Asia kembali meningkat pada 2024, mencapai hampir empat perlima, naik signifikan dari kurang dari dua perlima pada tahun 2000. Di China sendiri, permintaan batu bara tumbuh 1,2% atau sekitar 43 juta ton pada tahun ini, mencetak rekor tertinggi baru.
“Negara ini kini mengonsumsi hampir 40% lebih banyak batu bara dibandingkan seluruh dunia digabungkan, terutama untuk pembangkit listrik,” kata IEA.
Secara keseluruhan, permintaan batu bara pada 2024 mengalami kenaikan sebesar 1,1% dalam bentuk energi, atau sekitar 67 juta ton setara batu bara (Mtce), serta meningkat 1,4% dalam bentuk fisik atau sekitar 123 juta ton, menurut laporan IEA.
Dengan berbagai dinamika ini, meskipun harga batu bara sempat tertekan, langkah strategis Glencore dan permintaan yang tetap kuat di Asia memberikan sinyal bahwa industri batu bara masih memiliki peran penting dalam transisi energi global.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel





































