Perjuangan Aleysha Ortiz: Lulus Sekolah Tanpa Bisa Membaca dan Menulis

Aleysha Ortiz
Aleysha Ortiz (©CNN)

TIMETODAY.ID Aleysha Ortiz, remaja 19 tahun dari Connecticut, Amerika Serikat, tak pernah menyangka bahwa kelulusannya dari Hartford Public High School justru akan membawanya ke meja hijau.

Ia menggugat sekolahnya atas dugaan kelalaian dalam memberikan pendidikan yang layak. Meski lulus dengan predikat honors, Ortiz mengaku nyaris buta huruf dan mengalami kesulitan belajar sejak kecil.

Kasusnya menjadi sorotan, menyingkap persoalan mendalam dalam sistem pendidikan di Amerika Serikat.

Advertisement

Perjalanan Panjang Tanpa Dukungan

Sejak kecil, Ortiz menyadari bahwa ia kesulitan membaca dan menulis. Namun, selama 12 tahun bersekolah, ia merasa tidak mendapatkan dukungan yang cukup.

“Saya telah berjuang selama bertahun-tahun, dan saya merasa sekolah seharusnya membantu saya lebih baik lagi,” ungkapnya. Ironisnya, hanya sebulan sebelum kelulusannya, sebuah tes mengungkap bahwa tingkat literasi Ortiz setara dengan anak kelas satu SD.

Menyadari kesenjangan ini, distrik sekolah sempat menawarkan penundaan ijazah agar Ortiz bisa mengikuti pendidikan intensif. Namun, ia menolaknya.

“Sekolah telah memiliki waktu 12 tahun untuk membantu saya, dan sekarang saya akan menuntut pendidikan yang layak,” tegasnya. Kasus ini menyoroti betapa lemahnya sistem pendidikan dalam menangani siswa yang mengalami kesulitan belajar.

Baca Juga :  Belantara Foundation Sosialisasikan Forest Restoration Project: SDGs Together

Fenomena Siswa Lulus Tanpa Literasi Memadai

Kisah Ortiz bukanlah kasus tunggal. Banyak siswa di Amerika Serikat yang lulus tanpa memiliki kemampuan dasar membaca dan menulis yang memadai. Studi menunjukkan bahwa tingkat literasi di kalangan pelajar AS mengalami penurunan, terutama di komunitas yang kurang beruntung.

“Saya merasa sangat frustasi, karena saya tahu saya bisa melakukan lebih baik jika saya mendapatkan bantuan yang tepat,” ujar Ortiz.

Sayangnya, laporan terbaru mengungkap bahwa banyak sekolah tidak memiliki program khusus yang efektif untuk membantu siswa dengan kesulitan belajar. Akibatnya, banyak siswa yang kesulitan mengikuti pelajaran tanpa dukungan yang cukup.

Meski mengalami kendala literasi, Ortiz justru mendapatkan beasiswa kuliah dan diterima di University of Connecticut. Hal ini menimbulkan pertanyaan: bagaimana mungkin siswa dapat mencapai prestasi akademik tinggi tanpa keterampilan dasar yang memadai?

Baca Juga :  Cita-Cita Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen Dibatalkan dengan Kenaikan PPN 12 Persen

Sorotan Publik dan Akuntabilitas Sekolah

Kasus Ortiz menarik perhatian publik dan memicu perdebatan luas. Banyak pihak mempertanyakan bagaimana sistem pendidikan dapat membiarkan siswa lulus tanpa keterampilan esensial.

“Ini adalah panggilan untuk bertindak bagi semua pihak yang terlibat dalam pendidikan,” ujar seorang pengamat pendidikan.

“Kita harus memastikan bahwa setiap siswa mendapatkan pendidikan yang layak dan dukungan yang mereka butuhkan.”

Sementara itu, pihak Hartford Public High School belum memberikan tanggapan resmi atas gugatan yang dilayangkan Ortiz. Namun, kasus ini telah memicu diskusi luas mengenai akuntabilitas sekolah dalam mendidik siswanya.

Dalam skala yang lebih luas, cerita Ortiz mencerminkan tantangan yang dihadapi banyak siswa di Amerika Serikat. Dengan meningkatnya jumlah lulusan yang tidak memiliki keterampilan dasar, perbaikan sistem pendidikan menjadi kebutuhan mendesak.

“Kita tidak bisa membiarkan siswa lulus tanpa kemampuan yang diperlukan untuk sukses di dunia nyata,” tutup Ortiz penuh harapan.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel