Kisah Tangguh Srikandi Penjinak Api di Kota Bogor

srikandi
Kisah Tangguh Srikandi Penjinak Api di Kota Bogor dalam Hari Perempuan Sedunia. Foto : Ist.

TIMETODAY.ID, BOGOR – Di balik amukan nyala api, di antara kepulan asap yang menghitamkan langit, tiga wanita tangguh berdiri tegak, menantang kobaran yang siap melahap apa saja. Profesi pemadam kebakaran yang biasanya didominasi laki-laki ternyata juga menjadi panggilan jiwa bagi sejumlah perempuan di Kota Bogor. Vivi Hastuti (27), Raden Yunita (25), dan Ninda (26) adalah tiga srikandi yang kini menjadi garda terdepan di Dinas Pemadam Kebakaran Kota Bogor.

Saat tak berseragam, Vivi tampak seperti gadis seusianya, memasak di dapur, membantu orang tua, atau sekadar membersihkan rumah. Namun, begitu seragam biru terpasang di tubuhnya, ia menjelma menjadi prajurit pemberani, siap menerjang panasnya api tanpa gentar. Api yang bagi kebanyakan orang adalah bencana, bagi Vivi adalah lawan yang harus dikendalikan.

“Aku bergabung di Damkar Kota Bogor empat tahun lalu, awalnya habis kontrak di PT KAI. Terus ada tawaran masuk Damkar, tapi syaratnya berat, terutama fisik,” kenangnya.

Advertisement
Baca Juga :  Menelusuri Jejak Pajajaran, Pemkab Bogor Bersiap Sambut Kirab Mahkota Binokasih

Ia sadar bahwa menjadi petugas pemadam kebakaran bukan sekadar profesi, tetapi juga panggilan hati.

Meski rasa takut sempat menghampiri, perempuan 27 tahun itu tahu bahwa nyalinya tak boleh padam.

“Nalurinya pasti takut kalau lihat api sudah besar. Tapi begitu pakai seragam dan perlengkapan pemadam, ketakutan itu hilang. Yang ada di kepala cuma satu, bagaimana menolong warga,” ujar perempuan berambut pendek itu.

Selama empat tahun terakhir, pekerjaan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan juga panggilan yang terus menggelora di hatinya. Meski kesempatan bekerja di bank pernah terbuka, Vivi tetap memilih menjadi penjinak api.

“Di Damkar, kita selalu ketemu orang yang berbeda, ada kepuasan tersendiri saat bisa membantu,” kisahnya.

Sementara bagi Ninda, panggilan jiwa untuk menolong sesama juga menjadi alasan kuat untuk tetap bertahan. Meski bertugas di bagian administrasi, suara sirene yang melengking membuatnya tak bisa tinggal diam.

Baca Juga :  Google Doodle dan Jejak Panjang Perempuan di Dunia STEM

“Damkar itu menantang. Meskipun di bagian administrasi, kami tetap turun ke lapangan saat ada kebakaran. Personel kami juga masih kurang, jadi semua harus siap,” tegas Ninda.

Kepala Seksi Penyelamatan Dinas Pemadam Kebakaran Kota Bogor, Amid Suwardi, mengakui bahwa para srikandi ini sebetulnya bertugas di bagian lain. Namun, panggilan jiwa mereka terlalu kuat untuk diabaikan. Mereka tak sekadar membantu, tetapi juga menjadi bagian dari pasukan utama yang menghadapi amukan api.

“Sempat ada rasa khawatir karena keselamatan mereka juga jadi taruhannya. Tapi setelah melihat semangat mereka, kami yakin mereka sudah dibekali ilmu dan keterampilan yang cukup. Jiwa mereka memang jiwa pemadam kebakaran,” beber Amid. ***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel