Gas LPG Langka, Emak Ami Andalkan Kayu Bakar untuk Memasak

gas LPG
Emak Ami (58) menyalakan tungku berbahan bakar kayu di dapurnya di sebuah rumah sederhana di Bogor, Jawa Barat. Akibat kelangkaan gas LPG dalam beberapa hari terakhir, Ami terpaksa kembali menggunakan kayu bakar untuk memasak kebutuhan sehari-hari. Meski lebih sulit dan memakan waktu, ia tetap bertahan dengan cara tradisional ini demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Foto : Andres/narasitoday.com

TIMETODAY.ID, BOGOR – Sejak sebulan terakhir aroma kayu bakar kini lebih sering tercium dari dapur warga Desa Karyasari, Kampung Rawasari, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Itu, setelah menghilangnya gas LPG 3 kilogram dari pengecer.

Di teras rumahnya, Emak Ami, merenung sembari menyesap teh panas. Di sampingnya, tungku sederhana dari batu bata masih mengepul setelah digunakan pagi tadi.

“Sudah sebulan susah cari tabung gas, jadi sekarang saya pakai tungku dan mencari kayu bakar,” ujarnya.

Advertisement

Gas melon yang biasa dijual di warung-warung setempat kini langka. Kalaupun tersedia, harganya melambung tinggi, jauh di atas harga eceran tertinggi (HET).

“Kalau ada, mahal banget. Jadi lebih baik cari kayu bakar ke hutan,” tambah Emak Ami.

Baca Juga :  Baby Rio, Anak Panda TSI Siap Menyapa Pengunjung Akhir Mei 2026

Rutinitas suaminya pun berubah, sekarang ia menghabiskan pagi hari menyusuri perkebunan untuk mencari ranting-ranting kering sebagai bahan bakar.

“Sehari-hari sekarang masaknya pakai tungku. Kalau kayu bakar, ya suami yang cari,” tambahnya pasrah.

Kepala Desa Karyasari, Riad Supriadi, membenarkan hampir seluruh warganya terdampak kelangkaan ini.

“Sekitar 95 persen warga kami beralih ke kayu bakar. Selain karena langka, harga gas juga tidak masuk akal,” katanya.

Jarak desa ke agen LPG yang cukup jauh menambah sulit kondisi ini. Warga harus mengeluarkan biaya lebih untuk transportasi, sehingga beban semakin berat.

Baca Juga :  Mengenal Metode Hisab dan Rukyat Penentuan Awal Ramadan

“Desa kami jauh dari agen. Kalau mau beli gas, harus keluar uang lebih. Masyarakat jadi kesulitan,” lanjut Riad.

Sekarang, dapur-dapur warga Karyasari kembali seperti zaman dulu, dengan asap kayu mengepul di pagi dan sore hari. Meskipun penuh perjuangan, mereka tetap bertahan.

“Daripada tidak bisa masak, ya solusinya kembali ke kayu bakar,” ujar Rias.

Warga berharap pemerintah segera turun tangan agar mereka tidak terus terjebak dalam kondisi sulit ini.

“Semoga pemerintah bisa memahami kondisi masyarakat dan segera mencarikan solusi yang efektif,” tuntasnya menutup wawancara. ***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel