Dampak Pungli, Okupansi Hotel di Puncak Anjlok Selama Libur Nataru

Nataru
Ilustrasi/freepik.com

TIMETODAY.ID, BOGOR – Momen libur Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 (Nataru) yang seharusnya menjadi puncak kunjungan wisatawan ke Kawasan Puncak, Bogor, justru diwarnai penurunan signifikan tingkat hunian hotel.

Fenomena ini memunculkan kekhawatiran di kalangan pengusaha perhotelan dan mendorong analisis lebih dalam terhadap berbagai penyebabnya.

Boboy Ruswanto, Sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Bogor, mengungkapkan bahwa meskipun jumlah kunjungan wisatawan meningkat, tingkat hunian hotel tidak menunjukkan tren yang sama.

Advertisement

“Okupansi hotel sekarang cenderung menurun dibanding tahun kemarin 2023,” ujar Boboy saat ditemui timetoday.id, Jumat (3/1/2025).

Angka Penurunan yang Mengkhawatirkan

Secara statistik, penurunan tingkat hunian hotel di kawasan Puncak terbilang signifikan. Jika pada libur Nataru tahun 2023 tingkat hunian mencapai 80 persen, pada tahun ini angka tersebut merosot hingga 60 persen turun 20 persen.

Baca Juga :  Pemkab Bogor Cepat Tanggulangi Bencana Di Daerah Minapolitan Kecamatan Ciseeng

Penurunan ini dianggap cukup memukul, mengingat periode libur panjang seperti Nataru biasanya menjadi masa emas bagi sektor perhotelan.

Faktor Pungli dan Penyebab Lain

Boboy menduga, salah satu faktor utama di balik penurunan ini adalah praktik pungutan liar (pungli) yang marak di Kawasan Puncak.

Pungli tidak hanya berdampak pada kenyamanan wisatawan, tetapi juga merusak citra kawasan sebagai destinasi wisata utama. Namun, ia menekankan bahwa pungli bukan satu-satunya penyebab.

“Bukan hanya pungli saja, tapi pasti ini ada penyebab lain, sangat disayangkan,” tegas Boboy.

Dengan demikian, Boboy mengusulkan perlunya kajian lebih mendalam untuk mengidentifikasi faktor-faktor lain, seperti kemacetan, kurangnya inovasi destinasi, hingga harga akomodasi yang tidak kompetitif.

Tantangan bagi Pelaku Usaha Perhotelan

Penurunan okupansi ini menjadi tantangan besar bagi pelaku usaha di sektor perhotelan, termasuk pengelola resort dan villa.

Baca Juga :  Jenderal Agus Subiyanto Ajak Masyarakat Jaga Kedamaian, Hindari Provokasi

Mereka harus berupaya lebih keras untuk menarik minat wisatawan. Beberapa strategi yang bisa diterapkan meliputi promosi menarik, peningkatan layanan, dan kolaborasi dengan pemerintah daerah untuk menekan pungli dan memperbaiki infrastruktur.

Harapan Perbaikan di Masa Depan

Di tengah tantangan ini, Boboy dan pelaku usaha perhotelan lainnya berharap adanya dukungan nyata dari pemerintah dan aparat penegak hukum untuk memberantas pungli.

Selain itu, sinergi antara sektor swasta dan pemerintah dalam menciptakan destinasi wisata yang lebih ramah dan menarik juga menjadi solusi jangka panjang.

Dengan libur Lebaran dan musim liburan sekolah yang akan datang, pelaku usaha berharap bisa memanfaatkan waktu tersebut untuk mengembalikan tingkat hunian hotel seperti sebelumnya.

Namun, langkah konkret perlu segera diambil untuk memastikan Kawasan Puncak tetap menjadi tujuan utama wisatawan.

Reporter: Amelia Azizah R.

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel