Diabetes Tipe 5: Ancaman Senyap dari Kekurangan Gizi

diabetes
ilustrasi diabetes (istockphoto)
TIMETODAY.ID — Selama ini, masyarakat hanya mengenal dua jenis diabetes: tipe 1 dan tipe 2. Namun, dunia medis kini menyoroti jenis lain yang telah lama tersembunyi di balik statistik: diabetes tipe 5.
Baru-baru ini, Federasi Diabetes Internasional (IDF) mengumumkan pengakuan resmi terhadap diabetes tipe 5, membuka babak baru dalam pemahaman kita tentang penyakit metabolik yang kerap dianggap hanya menyerang kalangan gemuk dan usia lanjut.
Namun tidak dengan tipe 5. Diabetes ini menyasar kelompok yang justru kurus dan kurang gizi, terutama remaja dan dewasa muda di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Berdasarkan data IDF, diperkirakan 20-25 juta orang di dunia telah hidup dengan diabetes tipe 5, khususnya di kawasan Asia dan Afrika.
“Sudah terlalu lama kondisi ini tidak dikenali. Padahal, dampaknya sangat besar,” ujar Profesor Peter Schwarz, Presiden IDF.
Bukan Diabetes Biasa
Diabetes tipe 5—secara medis dikenal sebagai Severe Insulin-Deficient Diabetes (SIDD)—memiliki ciri khas yang membedakannya dari tipe lainnya.
Tidak seperti diabetes tipe 2 yang identik dengan resistensi insulin atau tipe 1 yang dipicu oleh gangguan autoimun, tipe 5 terjadi karena kerusakan pankreas akibat malnutrisi jangka panjang.
Tubuh penderita tidak memproduksi cukup insulin, namun mereka juga tidak mengalami resistensi terhadapnya.
Ini menjadikan penanganannya menjadi tantangan tersendiri. Pasien sering salah didiagnosis sebagai penderita diabetes tipe 1 dan langsung diberikan insulin. Namun kenyataannya, banyak dari mereka justru mengalami penurunan drastis kadar gula darah yang berisiko fatal.
Meredith Hawkins, profesor dari Albert Einstein College of Medicine, mengaku pertama kali menemukan kasus semacam ini pada 2005.
Ia mendapati pasien-pasien muda yang sangat kurus, didiagnosis sebagai tipe 1, namun tidak membaik meski diberi insulin. Sebaliknya, beberapa malah mengalami hipoglikemia parah.
Sudah Ada Sejak Lama, Tapi Diabaikan
Meskipun baru mendapat pengakuan internasional, jejak diabetes tipe 5 sebenarnya sudah muncul sejak lama. Kasus pertama kali dilaporkan pada 1955 di Jamaika, dengan pola yang sama: pria muda, kurus, kadar gula tinggi, tapi tanpa ketosis seperti pada tipe 1.
Sayangnya, karena tidak memiliki nama resmi, penyakit ini kerap terlupakan dalam kebijakan kesehatan global.
Hawkins menambahkan, diabetes akibat malnutrisi sebenarnya lebih umum dibandingkan tuberkulosis, dan jumlah penderitanya hampir setara dengan HIV/AIDS.
Namun, kurangnya pemahaman menyebabkan banyak pasien tidak terdiagnosis atau menerima terapi yang tidak tepat.
Mengapa Kita Perlu Peduli?
Diabetes tipe 5 menjadi peringatan bagi dunia bahwa gizi dan kemiskinan masih berperan besar dalam kesehatan global.
Di saat satu bagian dunia bergulat dengan obesitas dan gaya hidup modern, bagian lainnya justru diam-diam dihantam penyakit akibat kekurangan makanan bergizi.
Dengan pengakuan resmi dari IDF, harapannya kini terbuka: penelitian lebih lanjut, deteksi dini yang lebih akurat, dan terapi yang sesuai.
Sebab, tanpa pemahaman yang tepat, jutaan orang di negara berkembang akan terus menghadapi risiko komplikasi serius—bahkan kematian—hanya karena salah diagnosis.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Baca Juga :  Wabah Campak di AS Kembali Merenggut Nyawa, New Mexico Laporkan Kematian Pertama dalam 40 Tahun

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel