Sering Digigit Nyamuk, tapi Orang di Sebelah Aman? Ternyata Ini Alasannya

nyamuk
ilustrasi di gigit nyamuk . Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Pernah merasa menjadi “langganan” gigitan nyamuk, sementara orang di sekitar justru nyaris tidak tersentuh? Kondisi ini ternyata bukan sekadar kebetulan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa nyamuk memang lebih tertarik pada orang-orang dengan karakteristik tertentu.

Nyamuk betina membutuhkan darah sebagai sumber protein untuk membantu proses pembentukan telur. Dalam mencari mangsa, serangga ini tidak menggigit secara acak, melainkan mengandalkan berbagai petunjuk, mulai dari karbon dioksida yang diembuskan saat bernapas, suhu tubuh, hingga aroma alami kulit manusia.

Berikut beberapa faktor yang membuat seseorang lebih rentan digigit nyamuk.

Advertisement

1. Menghasilkan lebih banyak karbon dioksida

Karbon dioksida merupakan salah satu sinyal utama yang digunakan nyamuk untuk menemukan manusia.

Orang yang mengeluarkan lebih banyak karbon dioksida, misalnya karena memiliki ukuran tubuh lebih besar atau baru selesai beraktivitas fisik, umumnya lebih mudah terdeteksi.

2. Aroma tubuh lebih menarik bagi nyamuk

Setiap orang memiliki aroma tubuh yang berbeda karena dipengaruhi oleh komposisi zat dalam keringat, seperti asam laktat, amonia, dan senyawa alami lainnya.

Pada sebagian orang, kombinasi aroma tersebut dinilai lebih menarik bagi nyamuk.

Baca Juga :  Bukan Cuma DBD! Kenali Jenis Nyamuk dan Penyakit yang Dibawanya

3. Suhu tubuh lebih tinggi

Nyamuk juga mampu mendeteksi panas tubuh. Ketika suhu tubuh meningkat akibat olahraga, demam, atau aktivitas tertentu, peluang seseorang menjadi sasaran gigitan nyamuk bisa bertambah.

4. Golongan darah

Beberapa penelitian menunjukkan nyamuk lebih sering tertarik pada pemilik golongan darah O dibandingkan golongan darah A. Meski demikian, penyebab pastinya masih terus diteliti dan diduga berkaitan dengan faktor genetik.

5. Sedang hamil

Ibu hamil diketahui lebih berisiko digigit nyamuk. Selama masa kehamilan, metabolisme tubuh meningkat sehingga menghasilkan lebih banyak karbon dioksida dan panas, dua hal yang disukai nyamuk.

6. Komposisi bakteri pada kulit

Kulit manusia dihuni jutaan bakteri baik yang membantu mengurai keringat dan menghasilkan aroma khas.

Perbedaan komposisi bakteri tersebut membuat sebagian orang memiliki bau tubuh yang lebih mudah dikenali nyamuk.

7. Mengenakan pakaian berwarna gelap

Selain mengandalkan penciuman, nyamuk juga menggunakan penglihatan untuk mencari mangsa.

Warna-warna gelap seperti hitam, merah tua, dan oranye disebut lebih mudah menarik perhatian nyamuk dibandingkan warna terang seperti putih atau biru muda.

8. Baru selesai berolahraga

Setelah berolahraga, tubuh biasanya mengeluarkan lebih banyak keringat, suhu meningkat, dan produksi karbon dioksida bertambah. Kombinasi faktor tersebut membuat seseorang lebih mudah dideteksi nyamuk, terutama saat berada di luar ruangan.

Baca Juga :  Kecantikan itu Lebih dari Sekedar Penampilan Luar

9. Mengonsumsi minuman beralkohol

Beberapa penelitian menemukan bahwa konsumsi minuman beralkohol, terutama bir, dapat meningkatkan daya tarik seseorang bagi nyamuk. Kondisi ini diduga berkaitan dengan perubahan metabolisme tubuh yang memengaruhi suhu tubuh dan produksi karbon dioksida.

Cara Mengurangi Risiko Gigitan Nyamuk

Untuk meminimalkan risiko digigit nyamuk, ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan, di antaranya:

  • Mengenakan pakaian berlengan panjang saat beraktivitas di luar rumah, terutama pada pagi dan menjelang malam.
  • Memilih pakaian berwarna terang agar tidak mudah menarik perhatian nyamuk.
  • Menggunakan losion atau semprotan antinyamuk sesuai petunjuk penggunaan.
  • Segera mandi setelah berolahraga untuk membersihkan keringat yang menempel di kulit.
  • Menjaga lingkungan tetap bersih dan bebas dari genangan air yang dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

Melindungi diri dari gigitan nyamuk tidak hanya membantu mengurangi rasa gatal, tetapi juga menekan risiko penularan berbagai penyakit yang dibawa nyamuk, seperti demam berdarah, malaria, dan chikungunya.***

Editor : Syafira

Sumber : CNNIndonesia.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel