Punya Riwayat Alergi di Keluarga, Apakah Anak Otomatis Ikut Terkena?

alergi
Ilustrasi tes alergi. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Banyak orang tua kerap khawatir kondisi alergi yang mereka miliki akan otomatis diturunkan kepada anak. Misalnya, orang tua dengan asma atau alergi debu menganggap anak pasti akan mengalami hal serupa.

Namun, para ahli menegaskan bahwa alergi tidak diwariskan secara sederhana. Risiko memang bisa meningkat, tetapi tidak berarti anak akan mengalami jenis alergi yang sama, bahkan tidak semua anak dari orang tua dengan alergi akan ikut mengalaminya.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi-Imunologi, Molly Dumakuri Oktarina, menjelaskan bahwa faktor keturunan memang berperan, tetapi bukan satu-satunya penentu.

Advertisement

Menurutnya, anak memiliki risiko sekitar 20–40 persen mengalami alergi jika salah satu orang tua atau saudara kandung memiliki riwayat alergi. Risiko tersebut meningkat menjadi 40–60 persen apabila kedua orang tua memiliki riwayat alergi.

“Kalau gejala pada ibu dan bapaknya sama, misalnya sama-sama asma, maka risiko anak bisa sampai 80 persen,” ujar Molly dalam sebuah acara kesehatan menjelang World Allergy Week 2026 di Jakarta.

Baca Juga :  Mencari HP untuk Orang Tua? Ini 5 Pilihan Terbaik dengan Fitur Easy Mode

Meski begitu, ia menekankan bahwa anak dari orang tua tanpa riwayat alergi pun tetap memiliki kemungkinan mengalami alergi, meski lebih kecil, sekitar 5 persen.

Bukan Jenis Alerginya yang Diturunkan

Molly menjelaskan, yang diwariskan bukanlah jenis alergi tertentu, melainkan kecenderungan sistem imun untuk bereaksi berlebihan terhadap zat yang sebenarnya tidak berbahaya. Kondisi ini dikenal sebagai atopi.

Artinya, orang tua yang alergi makanan laut tidak otomatis memiliki anak dengan alergi yang sama. Begitu juga orang tua dengan asma tidak selalu menurunkan asma pada anaknya.

Jenis alergi yang muncul pada anak bisa berbeda, tergantung pada faktor pemicu yang ditemui di lingkungan.

Alergi Terjadi Saat Ada Pemicu

Gejala alergi biasanya muncul ketika dua hal bertemu: adanya risiko genetik dan paparan alergen. Alergen ini bisa berupa susu sapi, telur, kacang-kacangan, debu, tungau, serbuk sari, hingga bulu hewan.

Jika hanya salah satu faktor yang ada, gejala alergi belum tentu muncul. Karena itu, setiap anak bisa memiliki pemicu yang berbeda-beda.

Baca Juga :  Tanpa Disadari, Pola Asuh Ini Bisa Menghambat Kepercayaan Diri Anak

“Gejala alergi muncul jika ada riwayat dan ada paparan alergen. Kalau keduanya bertemu, barulah timbul reaksi,” jelas Molly.

Peran Lingkungan dan Nutrisi

Selain faktor genetik, lingkungan dan pola asuh juga turut memengaruhi risiko alergi pada anak. Asupan nutrisi sejak dini, termasuk pemberian ASI, disebut dapat membantu mendukung perkembangan sistem imun.

Faktor lain seperti kondisi mikrobiota usus, metode persalinan, hingga paparan lingkungan juga berperan dalam pembentukan respons imun anak.

Mikrobiota yang sehat membantu pematangan sistem imun sehingga dapat menurunkan risiko terjadinya alergi.

Tidak Perlu Langsung Berasumsi

Para ahli mengingatkan orang tua untuk tidak langsung menyimpulkan bahwa anak pasti akan mengalami alergi hanya karena ada riwayat keluarga. Yang lebih penting adalah mengenali gejala sejak dini, memperhatikan pola kemunculannya, dan melakukan pemeriksaan medis bila diperlukan.

Dengan pemahaman yang tepat, alergi pada anak dapat dideteksi lebih awal dan ditangani dengan lebih baik, tanpa perlu kekhawatiran berlebihan sejak awal.***

Editor : Syafira

Sumber : CNNIndonesia.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel