TIMETODAY.ID, JAKARTA — Demam pada anak sering kali dianggap sebagai kondisi yang akan membaik dengan sendirinya. Namun, orang tua perlu lebih waspada, terutama saat musim hujan atau ketika kasus demam berdarah dengue (DBD) sedang meningkat di lingkungan sekitar.
Masalahnya, gejala awal DBD kerap menyerupai flu atau infeksi virus biasa. Akibatnya, tidak sedikit kasus yang baru terdeteksi ketika kondisi anak sudah memasuki fase yang lebih serius. Karena itu, mengenali tanda-tanda DBD sejak dini menjadi langkah penting agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan risiko komplikasi dapat diminimalkan.
Berikut sejumlah gejala DBD pada anak yang perlu mendapat perhatian.
1. Demam Tinggi Mendadak
Salah satu tanda paling umum DBD adalah demam tinggi yang muncul secara tiba-tiba. Suhu tubuh anak biasanya mencapai 39 hingga 40 derajat Celsius dan dapat berlangsung selama tiga hingga tujuh hari.
Berbeda dengan demam biasa, suhu tubuh sering kali sulit turun meski sudah diberikan penanganan awal di rumah. Jika demam tinggi berlangsung lebih dari tiga hari, orang tua sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis.
2. Sakit Kepala dan Nyeri di Belakang Mata
Anak yang terkena DBD juga dapat mengalami sakit kepala yang cukup berat. Pada beberapa kasus, muncul keluhan nyeri di area belakang mata yang terasa semakin tidak nyaman saat menggerakkan bola mata.
Gejala ini lebih mudah dikenali pada anak yang sudah bisa mengungkapkan keluhannya secara verbal. Sementara pada anak yang lebih kecil, orang tua perlu memperhatikan perubahan perilaku atau tanda-tanda ketidaknyamanan yang tidak biasa.
3. Nyeri Otot, Sendi, dan Perut
Infeksi virus dengue dapat menimbulkan rasa nyeri di berbagai bagian tubuh. Anak mungkin mengeluhkan pegal-pegal, nyeri sendi, atau sakit perut yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Keluhan tersebut biasanya muncul bersamaan dengan demam tinggi dan membuat anak tampak lebih lemas dari biasanya.
4. Nafsu Makan Menurun Disertai Mual dan Muntah
Anak yang mengalami DBD umumnya kehilangan selera makan. Selain itu, mual dan muntah juga sering terjadi, sehingga asupan makanan dan cairan menjadi berkurang.
Pada kondisi tertentu, muntah dapat terjadi berulang kali hingga menyebabkan dehidrasi. Jika anak sulit makan atau minum karena terus muntah, pemeriksaan medis perlu segera dilakukan.
5. Ruam Merah dan Bintik-bintik pada Kulit
Seiring perkembangan infeksi, sebagian anak mengalami ruam kemerahan di kulit. Selain itu, dapat muncul bintik-bintik merah atau ungu kecil yang dikenal sebagai petechiae.
Bintik-bintik tersebut terjadi akibat perdarahan kecil di bawah permukaan kulit dan sering dikaitkan dengan penurunan jumlah trombosit. Karena itu, kemunculannya tidak boleh dianggap sepele.
6. Mimisan atau Gusi Berdarah
Ketika jumlah trombosit menurun, kemampuan tubuh untuk membekukan darah ikut terganggu. Akibatnya, anak bisa mengalami mimisan, gusi berdarah, atau tanda-tanda perdarahan lainnya.
Pada beberapa kasus, perdarahan juga dapat muncul dalam bentuk bintik merah di kulit atau darah pada urine. Kondisi ini memerlukan evaluasi medis lebih lanjut karena bisa menjadi tanda DBD yang semakin berat.
7. Anak Sangat Lemas dan Sulit Dibangunkan
Tanda yang paling perlu diwaspadai adalah ketika anak tampak sangat lemah, gelisah tanpa sebab yang jelas, atau sulit dibangunkan.
Gejala lain yang dapat muncul meliputi napas yang lebih cepat, kulit terasa dingin dan lembap, serta penurunan kesadaran. Kondisi ini dapat mengarah pada dengue berat atau dengue shock syndrome yang berpotensi mengancam nyawa dan membutuhkan penanganan darurat.
Kapan Harus ke Dokter?
Orang tua disarankan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam tinggi lebih dari tiga hari, terutama jika disertai gejala lain seperti muntah, nyeri tubuh, ruam kulit, atau tanda-tanda perdarahan.
Hingga kini belum ada obat yang secara langsung membunuh virus dengue. Penanganan DBD berfokus pada pemantauan kondisi pasien, menjaga kecukupan cairan tubuh, serta mencegah komplikasi yang lebih serius.
Karena itu, semakin cepat gejala dikenali, semakin besar peluang anak mendapatkan penanganan yang tepat dan terhindar dari kondisi yang membahayakan.***





































