Fenomena Curhat ke Orang Asing, Ternyata Ada Penjelasan Psikologisnya

orang
ilustrasi berbicara dengan teman baru. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Tidak sedikit orang yang merasa lebih mudah mengungkapkan isi hati kepada orang asing dibandingkan kepada keluarga atau sahabat dekat. Meski terdengar paradoks, fenomena ini ternyata memiliki penjelasan psikologis yang cukup menarik.

Dosen Psikologi UIN Jakarta, Ikhwan Lutfi, menjelaskan bahwa kecenderungan tersebut berawal dari kebutuhan dasar manusia untuk merasa terhubung dengan orang lain. Namun, kehidupan modern, terutama di kota-kota besar, sering kali menghadirkan kondisi yang membuat seseorang tetap merasa kesepian meskipun berada di tengah keramaian.

Menurutnya, banyak orang merindukan hubungan yang lebih autentik dan bebas dari berbagai ekspektasi sosial. Dalam situasi tertentu, orang asing justru dapat menghadirkan ruang yang terasa aman untuk berbagi cerita tanpa rasa khawatir.

Advertisement

“Di kota besar, kita dikelilingi banyak orang, tetapi belum tentu memiliki kedekatan emosional. Kondisi ini bisa memunculkan perasaan terasing dan kesepian,” ujar Ikhwan dikutip dari cnnindonesia .

Baca Juga :  Noda Arang di Carport Usai Bakar Sate? Begini Cara Bersihkannya

Fenomena tersebut dikenal dalam psikologi sebagai stranger on the train phenomenon, yakni kecenderungan seseorang untuk lebih terbuka kepada orang yang baru dikenal dalam pertemuan singkat. Karena kemungkinan bertemu kembali relatif kecil, risiko sosial yang dirasakan pun menjadi lebih rendah.

Seseorang tidak perlu memikirkan dampak jangka panjang dari cerita yang disampaikan. Tidak ada kekhawatiran soal perubahan hubungan, penilaian keluarga, atau citra diri yang telah lama terbentuk.

Selain itu, faktor anonimitas juga berperan penting. Ketika berhadapan dengan orang yang tidak mengetahui latar belakang maupun masa lalu, seseorang cenderung merasa lebih bebas mengekspresikan pikiran dan emosinya.

“Orang merasa lebih leluasa karena tidak dibayangi ketakutan identitasnya diketahui atau masa lalunya diungkit,” jelas Ikhwan.

Baca Juga :  Kenapa Orang Berutang Jadi Emosi Saat Ditagih? Ini Fakta di Baliknya

Meski demikian, keterbukaan kepada orang asing tetap perlu disertai batasan yang sehat. Ikhwan mengingatkan agar seseorang tidak terlalu cepat percaya atau membagikan informasi yang sangat pribadi tanpa pertimbangan matang.

Menurutnya, risiko terbesar dari fenomena ini adalah munculnya harapan berlebihan terhadap hubungan yang sebenarnya hanya berlangsung singkat. Selain itu, aspek keamanan dan privasi juga perlu diperhatikan.

Karena itu, kesadaran diri atau mindfulness tetap menjadi kunci saat membangun percakapan dengan orang baru. Berbagi cerita dapat menjadi cara yang melegakan untuk menyalurkan emosi, tetapi informasi sensitif tetap perlu dijaga.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pada dasarnya setiap orang membutuhkan ruang aman untuk didengar. Menariknya, bagi sebagian orang, ruang tersebut justru hadir dari percakapan singkat dengan seseorang yang tidak memiliki keterikatan apa pun dalam kehidupannya.***

Editor : Syafira

Sumber : CNNIndonesia.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel