Kasus Kematian Bayi akibat Defisiensi Vitamin K Jadi Sorotan, Ini Penjelasannya

vitamin K
Ilustrasi bayi baru lahir. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Kondisi kekurangan vitamin K pada bayi baru lahir kembali menjadi perhatian para tenaga kesehatan setelah sejumlah kasus kematian bayi di Amerika Serikat dikaitkan dengan perdarahan akibat defisiensi vitamin tersebut. Meski sering luput dari perhatian, kekurangan vitamin K dapat memicu komplikasi serius, mulai dari kerusakan otak hingga kematian.

Vitamin K memiliki peran penting dalam proses pembekuan darah. Tanpa asupan yang cukup, tubuh bayi kesulitan menghentikan perdarahan yang terjadi di dalam maupun luar tubuh.

Kasus Kematian Bayi Jadi Pengingat Penting

Laporan medis di Amerika Serikat menunjukkan beberapa bayi mengalami kondisi mendadak seperti kejang, muntah, sesak napas, hingga kehilangan kesadaran. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, penyebabnya mengarah pada Vitamin K Deficiency Bleeding (VKDB) atau perdarahan akibat kekurangan vitamin K.

Advertisement

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sebagian kasus terjadi pada bayi yang tidak menerima suntikan vitamin K setelah lahir. Padahal, prosedur tersebut telah lama menjadi bagian dari standar pelayanan kesehatan bayi baru lahir di berbagai negara.

Para ahli menilai masih banyak orang tua yang menolak pemberian vitamin K karena terpengaruh informasi yang tidak tepat. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan manfaat suntikan vitamin K jauh lebih besar dibandingkan risikonya.

Baca Juga :  Apa Itu Algor Mortis? Ini Penjelasan dan Fungsinya dalam Dunia Forensik

Mengapa Bayi Rentan Kekurangan Vitamin K?

Secara alami, bayi lahir dengan cadangan vitamin K yang sangat rendah. Vitamin K dari ibu hanya sedikit yang dapat melewati plasenta selama kehamilan. Setelah lahir, kebutuhan vitamin tersebut juga belum dapat dipenuhi secara optimal karena kandungannya dalam ASI tergolong rendah.

Karena itulah, bayi yang mendapatkan ASI eksklusif tetap dianjurkan menerima suntikan vitamin K sesaat setelah lahir guna membantu pembentukan faktor pembekuan darah yang diperlukan tubuh.

Data kesehatan menunjukkan risiko VKDB pada bayi yang tidak mendapatkan suntikan vitamin K jauh lebih tinggi dibandingkan bayi yang menerima tindakan pencegahan tersebut. Perdarahan bahkan dapat terjadi hingga usia enam bulan dan berpotensi menyerang otak.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Salah satu tantangan dalam mendeteksi VKDB adalah gejalanya yang sering tidak terlihat pada tahap awal. Banyak bayi tampak sehat sebelum akhirnya mengalami perdarahan serius.

Baca Juga :  Ditinggalkan di Depan Yayasan Yatim, Bayi Perempuan Selamat Berkat Sigapnya Warga

Beberapa tanda yang perlu mendapat perhatian orang tua antara lain:

  • Muncul memar, terutama di area kepala dan wajah.
  • Perdarahan dari hidung atau tali pusar.
  • Kulit tampak lebih pucat dari biasanya.
  • Bagian putih mata menguning setelah usia tiga minggu.
  • Tinja berwarna hitam pekat atau mengandung darah.
  • Muntah darah.
  • Bayi tampak sangat lemas, mengantuk berlebihan, mengalami kejang, atau muntah berulang.

Apabila gejala tersebut muncul, orang tua disarankan segera membawa bayi ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan secepat mungkin.

Pencegahan Sejak Lahir Sangat Penting

Dokter menegaskan bahwa defisiensi vitamin K bukan sekadar masalah nutrisi biasa. Dalam kondisi tertentu, kekurangan vitamin ini dapat menyebabkan kecacatan permanen akibat perdarahan otak hingga berujung kematian.

Karena itu, pemberian vitamin K setelah bayi lahir menjadi langkah pencegahan yang dinilai efektif untuk menurunkan risiko komplikasi serius. Kesadaran orang tua terhadap pentingnya vitamin K juga menjadi kunci dalam melindungi kesehatan bayi sejak hari-hari pertama kehidupannya.***

Editor : Syafira

Sumber : CNNIndonesia.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel