TIMETODAY.ID, JAKARTA — Setiap anak membutuhkan pengakuan atas usaha dan pencapaian yang mereka lakukan, sekecil apa pun bentuknya. Tidak selalu berupa hadiah atau pujian berlebihan, apresiasi sederhana dari orangtua sering kali menjadi sumber semangat yang membantu anak tumbuh dengan rasa aman dan percaya diri.
Sayangnya, sebagian orangtua masih menganggap apresiasi bukan hal yang penting. Padahal, kurangnya penghargaan terhadap usaha anak dapat memengaruhi perkembangan emosional, hubungan keluarga, hingga cara anak memandang dirinya sendiri.
Berikut beberapa dampak yang dapat muncul ketika anak terlalu jarang mendapatkan apresiasi dari orangtua.
1. Kepercayaan Diri Anak Bisa Menurun
Anak yang merasa usahanya tidak pernah diperhatikan cenderung menganggap dirinya tidak cukup baik. Lama-kelamaan, mereka mulai meragukan kemampuan yang dimiliki dan merasa kurang percaya diri saat menghadapi tantangan baru.
Kondisi ini dapat membuat anak lebih takut melakukan kesalahan atau mencoba hal-hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Mereka khawatir hasil yang diperoleh tidak akan dianggap berarti oleh orang-orang terdekatnya.
2. Motivasi Belajar dan Berkembang Menjadi Berkurang
Apresiasi merupakan salah satu bentuk dukungan emosional yang dapat mendorong anak untuk terus berkembang. Ketika usaha yang dilakukan mendapatkan penghargaan, anak akan merasa bahwa kerja kerasnya memiliki nilai.
Sebaliknya, jika pencapaian atau proses yang dijalani tidak pernah mendapat respons positif, semangat anak bisa menurun. Mereka mungkin menjadi kurang antusias dalam belajar, mengerjakan tugas, maupun mengembangkan kemampuan yang dimiliki.
Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi membuat anak kehilangan motivasi untuk memberikan usaha terbaiknya.
3. Hubungan dengan Orangtua Menjadi Kurang Hangat
Kurangnya apresiasi juga dapat memengaruhi kedekatan emosional antara anak dan orangtua. Anak yang merasa tidak dihargai cenderung menganggap bahwa perasaan atau pencapaiannya tidak penting bagi keluarga.
Akibatnya, mereka bisa menjadi lebih tertutup dan enggan berbagi cerita mengenai pengalaman sehari-hari. Komunikasi yang sebelumnya terbuka perlahan berkurang, sehingga hubungan keluarga menjadi terasa lebih berjarak.
Padahal, kedekatan emosional merupakan fondasi penting dalam membangun hubungan yang sehat antara orangtua dan anak.
4. Anak Mencari Pengakuan dari Lingkungan Lain
Ketika kebutuhan untuk dihargai tidak terpenuhi di rumah, anak berpotensi mencari pengakuan dari lingkungan luar, seperti kelompok pertemanan atau media sosial.
Keinginan untuk diterima dan diakui merupakan hal yang wajar. Namun jika tidak dibarengi dengan pendampingan yang tepat, anak bisa lebih mudah terpengaruh oleh lingkungan yang kurang positif demi mendapatkan perhatian atau validasi dari orang lain.
Situasi ini dapat membuat anak lebih rentan mengambil keputusan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan keluarga.
Apresiasi Tidak Harus Selalu Berupa Hadiah
Memberikan apresiasi kepada anak sebenarnya tidak memerlukan biaya besar. Ucapan sederhana seperti “Ayah bangga dengan usahamu”, “Terima kasih sudah berusaha”, atau sekadar mendengarkan cerita mereka dengan penuh perhatian sudah dapat memberikan dampak yang berarti.
Saat anak merasa dihargai, mereka akan lebih percaya diri, termotivasi, dan memiliki hubungan yang lebih erat dengan orangtuanya. Karena itu, apresiasi kecil yang diberikan setiap hari dapat menjadi investasi penting bagi tumbuh kembang anak di masa depan.***








































