TIMETODAY.ID, JAKARTA — Masyarakat kembali diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap infeksi Hantavirus atau virus hanta. Penyakit ini menjadi sorotan setelah adanya laporan kasus di awal Mei 2026 yang dikaitkan dengan kejadian di kapal pesiar Hondius.
Meski terdengar baru bagi sebagian orang, virus ini sebenarnya sudah dikenal sejak dekade 1970-an. Pertama kali ditemukan di wilayah Sungai Han, Korea Selatan, hantavirus kini telah tersebar di berbagai negara, termasuk Indonesia, dengan beberapa varian atau strain yang berbeda karakteristiknya.
Perbedaan strain ini berpengaruh pada hewan pembawa, wilayah penyebaran, hingga tingkat keparahan gejala. Bahkan, beberapa jenis tertentu seperti strain Andes di Amerika Selatan diketahui dapat menular antarmanusia, meski kasusnya tergolong jarang.
Gejala Sering Disalahartikan sebagai Flu
Salah satu tantangan utama dalam penanganan virus hanta adalah gejalanya yang muncul bertahap dan mirip dengan penyakit flu biasa. Masa inkubasi berkisar antara 1 hingga 8 minggu setelah seseorang terpapar melalui kotoran, urine, atau air liur tikus.
Berikut gejala yang perlu diwaspadai:
- Demam tinggi mendadak
Demam biasanya muncul tiba-tiba disertai menggigil, tubuh panas, dan keringat berlebih sebagai respons awal tubuh terhadap infeksi. - Nyeri otot
Rasa nyeri dapat muncul di area paha, punggung, bahu, hingga pinggul, yang membuat tubuh terasa lemah dan tidak nyaman. - Lemas dan sakit kepala
Penderita umumnya mengalami kelelahan ekstrem, sakit kepala, serta penurunan energi meski hanya melakukan aktivitas ringan. - Gangguan pencernaan
Sebagian kasus disertai mual, muntah, nyeri perut, atau diare pada fase awal infeksi. - Batuk dan sesak napas
Jika infeksi berkembang ke paru-paru, gejala dapat memburuk dengan batuk dan kesulitan bernapas akibat peradangan. - Mata merah atau sensitif cahaya
Peradangan tubuh juga dapat menyebabkan mata menjadi lebih sensitif terhadap cahaya atau terasa iritasi. - Tekanan darah menurun
Pada kondisi berat, tekanan darah bisa turun drastis hingga menyebabkan pusing berat, kelemahan ekstrem, bahkan risiko syok.
Risiko dan Pencegahan
Infeksi hantavirus dapat berkembang menjadi komplikasi serius seperti Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru atau Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang memengaruhi ginjal, tergantung jenis virusnya.
Namun, menurut catatan kesehatan global, kasus hantavirus tergolong jarang dan risiko penyebarannya menjadi pandemi seperti COVID-19 dinilai rendah oleh World Health Organization.
Meski begitu, pencegahan tetap penting dilakukan. Menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak dengan tikus dan kotorannya, serta rutin mencuci tangan menjadi langkah sederhana untuk mengurangi risiko penularan.
Karena gejalanya sering menyerupai flu biasa, kewaspadaan sejak dini menjadi kunci agar infeksi dapat segera dikenali dan ditangani secara medis sebelum berkembang lebih parah.***
Editor : Syafira
Sumber : alodokter.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































