
TIMETODAY.ID, BOGOR – Masih banyak anak yang berangkat ke sekolah tanpa sempat sarapan. Kondisi itu, menurut komika Dhany Ducun, menjadi salah satu alasan mendasar mengapa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) perlu dilihat lebih dari sekadar kebijakan gizi, melainkan sebagai persoalan kemanusiaan.
“Hal itu tentu memengaruhi proses belajar mereka,” kata Dhany dalam forum diskusi Gen Z bertajuk “Stay Aware, Stay Positive” yang digelar Komunitas PARAMUDAMUDI di Fairway Cafe, Bogor, Jumat (8/5/2026).
Selain dampak langsung terhadap anak-anak, MBG juga dinilai memberikan efek berganda pada sektor pertanian dan ketenagakerjaan. Emir Zabidi, Ketua PARAMUDAMUDI sekaligus Ketua Inkoptan Bogor, menyebut satu unit dapur MBG mampu menyerap 40 hingga 50 tenaga kerja.
“Petani menjadi lebih semangat karena hasil pertanian mereka lebih terserap,” ujar Emir.
Namun program sebesar ini tak lepas dari pertanyaan soal keberlanjutan. Rizki Tanjung dari komunitas thrifting Vintage2nd mempertanyakan nasib sisa makanan dari dapur MBG. Erika dari TM Agency menjawab bahwa limbah produksi itu bisa diolah menjadi eco-enzyme untuk pupuk cair atau pakan ternak, solusi yang sekaligus bernilai ekologis dan ekonomis.
Persoalan kepercayaan publik juga muncul dalam diskusi. Mutia dari TM Agency mengusulkan agar setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memiliki akun media sosial aktif yang menampilkan proses produksi secara transparan.
Di tengah derasnya informasi yang beredar di media sosial, Emir mengingatkan pentingnya sikap kritis yang bertumpu pada data.
“Kita harus mendukung sekaligus mengawal program pemerintah secara konstruktif, bukan kritik tanpa dasar,” tuntasnya.




































