TIMETODAY.ID, JAKARTA — Gula memang menjadi salah satu sumber energi penting bagi tubuh, termasuk untuk mendukung aktivitas harian anak. Namun di balik rasanya yang disukai, konsumsi gula berlebihan justru menyimpan risiko kesehatan yang tidak bisa dianggap sepele.
Di tengah maraknya makanan dan minuman manis—mulai dari camilan, minuman kemasan, hingga produk yang tampak “sehat”—anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan mengonsumsi gula secara berlebih. Tanpa kontrol yang tepat, kebiasaan ini dapat terbentuk sejak dini dan berdampak dalam jangka panjang.
Padahal, gula tidak hanya berasal dari gula pasir yang ditambahkan secara langsung. Kandungan gula juga tersembunyi dalam berbagai produk seperti sereal, jus buah, hingga minuman bersoda. Inilah yang sering kali luput dari perhatian orang tua.
Batas Konsumsi Gula Harian Anak
Menurut American Heart Association, anak usia 2 hingga 18 tahun disarankan mengonsumsi gula tambahan tidak lebih dari 25 gram atau sekitar 6 sendok teh per hari.
Sementara itu, panduan dari European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition menyebutkan bahwa batas konsumsi gula sebaiknya disesuaikan dengan usia anak, di antaranya:
- Usia 2–4 tahun: sekitar 15–16 gram per hari
- Usia 4–7 tahun: sekitar 18–20 gram per hari
- Usia 7–10 tahun: sekitar 22–23 gram per hari
- Usia 10–13 tahun: sekitar 24–27 gram per hari
- Usia 13–15 tahun: sekitar 27–32 gram per hari
- Usia 15–19 tahun: sekitar 28–37 gram per hari
Secara umum, konsumsi gula tambahan idealnya tidak melebihi 5 persen dari total kebutuhan energi harian anak.
Dampak Jika Konsumsi Berlebihan
Asupan gula yang melampaui batas dapat memicu berbagai masalah kesehatan, baik dalam waktu dekat maupun jangka panjang. Salah satu risiko yang paling sering muncul adalah obesitas, akibat kelebihan kalori dari makanan dan minuman manis.
Selain itu, kebiasaan ini juga dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 karena gangguan metabolisme dan resistensi insulin. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut bahkan berkaitan dengan penyakit jantung atau gangguan kardiovaskular.
Tak hanya itu, konsumsi gula berlebih juga bisa memicu gangguan pencernaan seperti perut kembung dan diare, terutama jika berasal dari minuman manis. Dampak lain yang sering terjadi adalah kerusakan gigi akibat proses pembentukan asam dari sisa gula yang menempel di permukaan gigi.
Dari sisi nutrisi, makanan tinggi gula cenderung menggantikan asupan makanan bergizi. Akibatnya, anak berisiko kekurangan zat penting seperti vitamin, zat besi, dan kalsium. Bahkan, minuman manis juga tidak memberikan rasa kenyang optimal, sehingga anak cenderung makan lebih banyak.
Pentingnya Edukasi Sejak Dini
Melihat berbagai risiko tersebut, edukasi tentang konsumsi gula perlu dimulai sejak dini. Orang tua memiliki peran penting dalam membentuk pola makan anak, termasuk membatasi asupan gula tambahan dan mengenalkan pilihan makanan yang lebih sehat.
Dengan pemahaman yang tepat, kebiasaan kecil seperti mengurangi minuman manis atau membaca label kandungan gula pada produk bisa menjadi langkah awal untuk menjaga kesehatan anak di masa depan.***
Editor : Syafira
Sumber : CNNIndonesia.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel








































