TIMETODAY.ID, JAKARTA — Lempar jumrah menjadi salah satu rangkaian wajib dalam ibadah haji yang dilaksanakan di Mina. Di tengah lautan manusia berpakaian ihram, jutaan jemaah bergerak menuju tiga titik jumrah untuk menuntaskan prosesi yang sarat makna spiritual.
Ritual ini bukan sekadar melempar batu kerikil, tetapi menjadi simbol perlawanan terhadap godaan setan dan bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Setiap lontaran seolah menjadi penegasan tekad seorang Muslim untuk tetap berada di jalan kebenaran.
Sejarah Lempar Jumrah
Prosesi lempar jumrah berakar dari kisah Nabi Ibrahim AS saat menerima perintah Allah SWT untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Dalam perjalanan menjalankan perintah tersebut, iblis datang menggoda agar Nabi Ibrahim mengurungkan niatnya.
Namun Nabi Ibrahim tetap teguh. Ia mengambil batu kerikil dan melemparkannya ke arah iblis. Peristiwa itu kemudian menjadi simbol Jumrah Sughra.
Godaan berikutnya ditujukan kepada Siti Hajar. Iblis berusaha menggoyahkan hati seorang ibu agar menolak perintah tersebut. Namun Siti Hajar tetap kukuh dan ikut melempar kerikil, yang kemudian dimaknai sebagai Jumrah Wustha.
Selanjutnya iblis mencoba menggoda Nabi Ismail AS. Meski demikian, Ismail tetap taat kepada Allah SWT dan mendukung ayahnya menjalankan perintah Ilahi. Keteguhan keluarga ini diabadikan dalam pelemparan Jumrah Aqabah.
Dari kisah tersebut, lempar jumrah dimaknai sebagai perjuangan melawan hawa nafsu, bisikan setan, serta ujian kehidupan.
Waktu Pelaksanaan Lempar Jumrah
Pelaksanaan lempar jumrah dilakukan pada hari-hari tertentu di bulan Dzulhijjah, yakni:
| Tanggal | Jumrah yang Dilempar | Jumlah Kerikil |
|---|---|---|
| 10 Dzulhijjah | Jumrah Aqabah | 7 butir |
| 11 Dzulhijjah | Sughra, Wustha, Aqabah | 21 butir |
| 12 Dzulhijjah | Sughra, Wustha, Aqabah | 21 butir |
| 13 Dzulhijjah | Sughra, Wustha, Aqabah | 21 butir |
Tata Cara Lempar Jumrah
Agar sah sesuai tuntunan syariat, pelaksanaan lempar jumrah dilakukan dengan ketentuan berikut:
- Kerikil harus mengenai sasaran (marma) dan masuk area jumrah.
- Setiap lontaran dilakukan satu per satu, tidak sekaligus.
- Masing-masing jumrah dilempar tujuh kali.
- Urutan pelemparan dimulai dari Jumrah Sughra, lalu Wustha, dan terakhir Aqabah.
Boleh Diwakilkan
Dalam kondisi tertentu seperti sakit, lanjut usia, atau uzur syar’i, jemaah diperbolehkan mewakilkan lempar jumrah kepada orang lain.
Orang yang mewakili harus lebih dulu melempar untuk dirinya sendiri, kemudian baru melempar atas nama jemaah yang diwakilkan.
Pesan Spiritual
Lempar jumrah mengajarkan bahwa godaan akan selalu datang dalam berbagai bentuk. Karena itu, umat Islam dituntut memiliki iman yang kokoh, kesabaran, serta keikhlasan dalam menjalankan perintah Allah SWT.
Di balik lemparan kerikil kecil, tersimpan pesan besar tentang perjuangan manusia menjaga keyakinan hingga akhir hayat.***
Editor : Syafira
Sumber : CNNIndonesia.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel








































