
TIMETODAY.ID, PANGANDARAN – Pagi itu, Sutisman sudah sibuk sejak matahari belum sepenuhnya tinggi. Tangannya cekatan mengikat helai demi helai daun pisang menjadi satu kompet rapi, sementara aroma hijau segar menguar di udara Desa Kalipucang, Kecamatan Kalipucang, Pangandaran.
Tak ada yang menyangka, ketegangan yang bergolak jauh di Timur Tengah akan membawa berkah tersendiri bagi lelaki pedagang daun pisang ini.
Harga kantong plastik dan pembungkus sintetis di pasar-pasar tradisional mendadak melonjak dalam sepekan terakhir, hampir dua kali lipat dari harga biasanya. Para pelaku usaha kuliner dan pengrajin tempe pun kalang kabut. Mereka memutar otak mencari jalan keluar yang lebih hemat.
Jawabannya ternyata sudah lama ada di kebun-kebun sekitar rumah mereka: daun pisang.
Peralihan itu datang cepat dan tak terduga. Satu per satu pembeli baru berdatangan ke lapak Sutisman. Wajah-wajah yang sebelumnya tak pernah ia kenal kini menjadi pelanggan tetap.
“Alhamdulillah,” ucap Sutisman, dikutip dari beritasatu.com, Minggu (12/4/2026).
Penghasilannya yang biasanya hanya berkisar Rp 40.000 per hari kini menembus Rp 70.000. Daun yang ia jual pun meningkat drastis, dari 50 kompet sehari menjadi 100 kompet. Harganya pun tetap bersahaja, satu ikat daun pisang berkualitas baik hanya Rp 1.500.
Bagi Sutisman, angka-angka itu bukan sekadar rupiah. Itu adalah nafas lega di tengah himpitan harga-harga kebutuhan yang juga ikut naik.
Yang menarik, pembeli tak lagi hanya datang dari warga Pangandaran sendiri. Beberapa di antaranya datang dari luar daerah, bahkan dari Jawa Tengah, membawa jeriken dan karung kosong, siap memborong daun-daun yang kini tiba-tiba menjadi barang berharga.
“Karena harganya jauh lebih murah dari plastik sekarang, konsumen yang biasa pakai plastik untuk dagangan mereka beralih ke daun pisang,” tutur Sutisman.
Ada pula dorongan lain yang turut mengalirkan rezeki ke lapaknya. Di kawasan wisata seperti Pangandaran, kesadaran akan produk ramah lingkungan semakin tumbuh. Daun pisang bukan hanya soal harga, ia juga memberi aroma khas yang tak bisa ditiru plastik, menghadirkan cita rasa dan kesan alami pada makanan yang dibungkusnya.
Sutisman tak tahu banyak soal konflk di Timur Tengah. Ia juga tak paham bagaimana harga minyak dunia bisa mempengaruhi harga plastik di pasar Pangandaran.
Yang ia tahu, hari-hari ini daun pisang di kebunnya laris manis. Dan untuk sementara, semesta seolah sedang berpihak padanya, lewat helai-helai hijau yang selama ini dianggap biasa saja.




































