TIMETODAY.ID, JAKARTA — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mulai mengintensifkan upaya peningkatan kualitas pembelajaran dengan menyiapkan pelatihan bagi sekitar 1.500 guru sekolah dasar. Program ini difokuskan untuk memperbaiki kemampuan literasi dan numerasi siswa yang dinilai masih tertinggal.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menyampaikan bahwa langkah ini merupakan bagian dari pemulihan pascapandemi yang belum sepenuhnya tuntas, terutama dalam aspek capaian belajar siswa.
“Ini adalah ikhtiar bersama untuk mengatasi persoalan pembelajaran yang sampai saat ini belum sepenuhnya pulih,” ujarnya di Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Program pelatihan tersebut melibatkan kerja sama dengan sejumlah lembaga internasional, seperti Tanoto Foundation, Gates Foundation, serta UNICEF. Pelatihan akan menyasar guru dari 500 sekolah dasar yang tersebar di enam daerah, antara lain Kabupaten Tegal, Kota Medan, Kota Pematang Siantar, Kabupaten Batanghari, Kabupaten Sikka, dan Kabupaten Ende.
Rendahnya capaian literasi dan numerasi di Indonesia tercermin dalam hasil Programme for International Student Assessment 2022, di mana kemampuan membaca dan matematika siswa masih berada di peringkat bawah. Kondisi ini disebut berkaitan dengan fenomena learning loss yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
“Masalah seperti learning loss dan learning poverty masih menjadi tantangan besar, termasuk capaian akademik yang belum sesuai harapan,” kata Mu’ti.
Sebagai solusi, Kemendikdasmen mulai menerapkan pendekatan pembelajaran berbasis deep learning. Metode ini tidak hanya berfokus pada teknik mengajar, tetapi juga mencakup penyesuaian kurikulum, penggunaan buku ajar, hingga strategi pembelajaran yang lebih mendalam dan kontekstual.
“Pendekatan ini kami harapkan mampu memperkuat proses belajar, termasuk dalam meningkatkan literasi dan numerasi siswa secara menyeluruh,” jelasnya.
Selain itu, pendekatan tersebut juga akan digunakan untuk memetakan capaian belajar siswa secara lebih akurat. Data yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi dasar evaluasi sekaligus perbaikan sistem pembelajaran ke depan.
“Harapannya, inovasi ini bisa benar-benar mendukung peningkatan kualitas pendidikan dan menjawab tantangan yang ada saat ini,” tutup Mu’ti.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































