Selat Hormuz Memanas, Iran Warning AS: Serangan Akan Dibalas Lebih Besar

Iran
Presiden AS Donald Trump. Foto: AP Photo/Jose Luis Magana

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat, menyusul ancaman terbaru yang dilontarkan Presiden AS Donald Trump terkait pembukaan Selat Hormuz. Ancaman tersebut langsung direspons keras oleh militer Iran dengan peringatan balasan yang lebih besar.

Melalui pernyataan resmi yang disiarkan media pemerintah, juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya menegaskan bahwa Iran tidak akan tinggal diam jika infrastruktur sipilnya menjadi target serangan.

“Jika serangan terhadap sasaran sipil terulang, tahapan selanjutnya dari operasi ofensif dan pembalasan kami akan jauh lebih dahsyat dan meluas,” tegasnya.

Advertisement

Pernyataan ini muncul setelah Trump mengancam akan melancarkan serangan ke fasilitas vital Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan, apabila jalur strategis Selat Hormuz tidak segera dibuka. Bahkan, ia menyebut serangan itu bisa dilakukan dalam waktu dekat sesuai tenggat yang telah ditetapkan.

Baca Juga :  Rupiah Menghijau di Awal Perdagangan, Dolar AS Dekati Rp 17.000

Dalam unggahan di media sosial, Trump kembali mengulang ancamannya dengan nada keras, menegaskan bahwa infrastruktur penting Iran akan menjadi sasaran jika tuntutannya tidak dipenuhi.

Di sisi lain, pemerintah Iran juga membawa isu ini ke panggung internasional. Misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa menilai ancaman tersebut sebagai potensi pelanggaran serius hukum internasional.

“Sekali lagi, presiden AS secara terbuka mengancam akan menghancurkan infrastruktur yang penting bagi kelangsungan hidup warga sipil di Iran,” demikian pernyataan mereka.

Iran pun mendesak komunitas global untuk bertindak cepat mencegah eskalasi yang dinilai berpotensi mengarah pada kejahatan perang.

Baca Juga :  Two State Solution dan Diplomasi Global, Fokus Prabowo di Sidang Umum PBB

Sementara itu, pejabat Iran lainnya, Seyyed Mehdi Tabatabaei, kembali menegaskan sikap negaranya terkait Selat Hormuz. Ia menyebut jalur tersebut hanya akan dibuka kembali dengan syarat adanya kompensasi atas kerusakan akibat konflik.

Menurutnya, skema baru kemungkinan akan diterapkan, termasuk penerapan biaya transit bagi kapal-kapal yang melintas sebagai bagian dari “rezim hukum baru” di kawasan tersebut.

Di tengah saling ancam ini, situasi kawasan tetap berada dalam tekanan tinggi. Selat Hormuz—jalur penting bagi distribusi energi global—kini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga menjadi simbol tarik-menarik kekuatan geopolitik yang belum menemukan titik temu.***

Editor : Syafira

Sumber : CNNIndonesia.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel