Harga Pangan Dunia Naik pada Maret 2026, Dipicu Konflik Timur Tengah

pangan
Ilustrasi gandum,biji jagung dan kacang kedelai. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Kenaikan harga energi global akibat konflik di Timur Tengah mulai merambat ke sektor pangan. Pada Maret 2026, harga berbagai komoditas pangan dunia tercatat mengalami peningkatan, memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan ke depan.

Berdasarkan laporan Food and Agriculture Organization (FAO), indeks harga pangan global mencapai rata-rata 128,5 poin pada Maret. Angka tersebut naik 2,4 persen dibanding Februari dan sekitar 1 persen lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kepala Ekonom FAO, Máximo Torero, mengingatkan bahwa tekanan biaya produksi dapat berdampak panjang terhadap sektor pertanian dunia.

Advertisement

“Jika konflik berlangsung lebih dari 40 hari dengan biaya input tinggi dan margin yang tipis, petani akan menghadapi pilihan sulit—mengurangi penggunaan input, menanam lebih sedikit, atau beralih ke komoditas yang lebih hemat pupuk,” ujarnya.

“Keputusan itu akan memengaruhi hasil panen dan membentuk harga pangan global hingga tahun depan.”

Di tengah tren kenaikan tersebut, harga beras justru menunjukkan penurunan. Indeks harga beras FAO turun 3 persen, dipengaruhi musim panen, lemahnya permintaan impor, serta pelemahan nilai tukar terhadap dolar AS.

Baca Juga :  Cadangan Beras Nasional Cetak Rekor, Pemerintah Yakin Tembus 5 Juta Ton Pekan Ini

Komoditas yang Mengalami Kenaikan

1. Gandum dan Jagung
Harga sereal global naik 1,5 persen, dengan gandum melonjak hingga 4,3 persen. Kenaikan ini dipicu oleh produksi yang terganggu akibat kekeringan di Amerika Serikat serta potensi pengurangan area tanam di Australia akibat mahalnya pupuk. Sementara itu, harga jagung ikut terdorong naik oleh lonjakan biaya produksi.

2. Minyak Nabati
Indeks minyak nabati mencatat kenaikan signifikan sebesar 5,1 persen dibanding bulan sebelumnya, dan melonjak 13,2 persen secara tahunan. Kenaikan terjadi pada berbagai jenis minyak seperti sawit, kedelai, bunga matahari, hingga rapeseed. Lonjakan ini sejalan dengan meningkatnya harga minyak mentah yang mendorong permintaan bahan bakar nabati.

3. Daging
Harga daging global naik 1 persen, didorong oleh peningkatan harga daging babi di Uni Eropa menjelang musim permintaan tinggi. Selain itu, harga daging sapi juga naik, terutama dari Brasil yang mulai membatasi ekspor untuk kebutuhan domestik. Di sisi lain, harga daging domba dan unggas justru melemah akibat kendala distribusi ke wilayah Timur Tengah.

Baca Juga :  Ketua DPRD Kabupaten Bogor Sastra Winara Usulkan Pasar Murah di Setiap Kecamatan

4. Produk Susu
Indeks harga susu meningkat 1,2 persen, dipicu kenaikan harga susu bubuk akibat berkurangnya pasokan musiman di kawasan Oseania. Harga keju menunjukkan tren beragam, turun di Eropa namun naik di Oseania.

5. Gula
Harga gula mencatat lonjakan tertinggi, yakni 7,2 persen. Peningkatan ini terjadi karena Brasil sebagai produsen utama mengalihkan lebih banyak tebu untuk produksi etanol, seiring naiknya harga minyak global.

Gambaran Pasokan Global

Meski harga mengalami tekanan, FAO memperkirakan stok sereal dunia justru meningkat sekitar 9,2 persen menjadi 951,5 juta ton. Rasio stok terhadap konsumsi global diprediksi mencapai 32,2 persen pada akhir musim 2025/2026.

Kondisi ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan, pasokan pangan global masih relatif aman, meski bayang-bayang ketidakpastian akibat konflik dan lonjakan biaya produksi tetap membayangi pasar dunia.***

Editor : Syafira

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel