Harga BBM Naik, WFH Jadi Solusi Hemat Energi di Australia dan Eropa

Australia
Ilustrasi BBM. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Gelombang krisis energi global mulai berdampak pada pola kerja di sejumlah negara. Di Australia dan kawasan Eropa, anjuran bekerja dari rumah atau work from home (WFH) kembali menguat sebagai langkah untuk menekan konsumsi bahan bakar.

Sejumlah perusahaan di Australia mulai mendorong karyawan, khususnya di sektor perkantoran, untuk mengurangi mobilitas harian. Kebijakan ini diambil sebagai respons terhadap tekanan harga energi yang meningkat akibat gangguan pasokan minyak global.

Salah satu perusahaan besar, Wesfarmers, bahkan telah membatasi perjalanan dinas yang tidak mendesak serta menunda penerbangan bagi karyawan korporatnya.

Advertisement

“Langkah ini diambil untuk menekan penggunaan bahan bakar sekaligus menjaga efisiensi operasional di tengah situasi energi yang tidak menentu,” demikian pernyataan perusahaan.

Baca Juga :  Casey Stoner Kritik Keputusan MotoGP, Phillip Island Tak Lagi Masuk Kalender 2027

Dorongan WFH juga muncul seiring rekomendasi Badan Energi Internasional yang mengimbau negara-negara untuk mengurangi konsumsi energi, termasuk dengan membatasi perjalanan dan meningkatkan kerja jarak jauh.

Meski pemerintah Australia telah mencoba meredam dampak dengan memangkas pajak bahan bakar sementara, tekanan terhadap masyarakat tetap terasa, terutama bagi pekerja yang bergantung pada kendaraan pribadi.

Di sisi lain, seruan serupa juga datang dari Eropa. Komisaris Energi Uni Eropa, Dan Jorgensen, mengingatkan bahwa dampak krisis energi tidak akan cepat pulih meski konflik global mereda.

“Bahkan jika situasi membaik, kita tidak akan langsung kembali ke kondisi normal dalam waktu dekat,” ujarnya.

Baca Juga :  Honda EV Fun Concept, Motor Listrik Sport Pertama yang Diuji di Jalanan Eropa

Ia mendorong masyarakat untuk menghemat penggunaan energi, mulai dari bekerja dari rumah, mengurangi kecepatan berkendara, hingga meningkatkan penggunaan transportasi umum dan berbagi kendaraan.

Kondisi ini dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk gangguan distribusi energi di jalur vital seperti Selat Hormuz. Situasi tersebut berdampak langsung pada pasokan dan harga energi di pasar global.

“Semakin banyak langkah penghematan yang dilakukan, semakin besar peluang kita menahan dampak krisis ini,” tambah Jorgensen.

Fenomena ini menunjukkan bahwa krisis energi tak hanya memengaruhi pasar, tetapi juga mulai mengubah kebiasaan kerja masyarakat di berbagai belahan dunia.***

Editor : Syafira

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel