TIMETODAY.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terancam anjlok ke level Rp 20.000 per dollar AS menyusul memanasnya konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Tekanan geopolitik di Timur Tengah dinilai dapat memicu depresiasi rupiah hingga 15–20 persen dari posisi saat ini.
Berdasarkan data Bloomberg, Senin (23/3/2026) rupiah berada di level Rp 16.997 per dollar AS. Jika depresiasi dalam kisaran tersebut terjadi, rupiah berpotensi tergelincir ke sekitar Rp 20.000 per dollar AS.
Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan mengatakan, konflik Iran berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia sekaligus mendorong pelarian modal dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Konflik di Iran berpotensi mengganggu pasokan minyak dan gas global beserta turunannya, dengan implikasi serius terhadap ekonomi dunia, termasuk Indonesia,” ujar Anthony.
Ia menilai, pola historis menunjukkan rupiah kerap terdepresiasi tajam saat tekanan global meningkat. Pada 2014–2015, rupiah melemah sekitar 20 persen ke level Rp 14.650 per dollar AS. Pada 2018, depresiasi 13,5 persen mendorong rupiah ke Rp 15.202 per dollar AS. Tekanan terbesar terjadi pada awal pandemi Covid-19, ketika rupiah anjlok hampir 20 persen hanya dalam sebulan, dari Rp 13.675 pada 21 Februari 2020 menjadi Rp 16.575 pada 23 Maret 2020.
Anthony menambahkan, besarnya cadangan devisa tidak otomatis menjamin stabilitas nilai tukar. Pergerakan rupiah dinilai lebih bergantung pada kesinambungan aliran dana eksternal, termasuk melalui penerbitan surat utang pemerintah di pasar global.
“Kenaikan harga minyak, gangguan rantai pasok global, dan pergeseran arus modal dari emerging market ke aset safe haven akan menciptakan tekanan simultan terhadap neraca eksternal Indonesia,” ujarnya.
Ia menegaskan, proyeksi rupiah ke level Rp 20.000 bukan sekadar spekulasi, melainkan berbasis data historis.
“Dalam kondisi geopolitik yang lebih ekstrem, depresiasi rupiah bahkan dapat melampaui 20 persen dan terjadi dalam waktu relatif singkat, yakni tiga hingga enam bulan ke depan,” kata Anthony.
Editor : B. Supriyadi
Sumber : Bloomberg
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































