
TIMETODAY.ID, JAKARTA – Modus penipuan digital terus berkembang dengan cara yang semakin canggih. Pelaku kini memanfaatkan berbagai teknologi, mulai dari deepfake AI yang dapat memalsukan wajah dan suara, fake Base Transceiver Station (BTS) yang mengirimkan pesan palsu secara massal seolah berasal dari lembaga resmi, hingga malware berbahaya yang mampu menyusup dan menyadap perangkat pengguna.
Fenomena ini menunjukkan bahwa ancaman penipuan di ruang digital tidak lagi terjadi secara acak. Penyedia solusi identitas digital dan pencegahan penipuan, VIDA, menilai praktik penipuan saat ini telah berkembang menjadi lebih terorganisir dan menyerupai industri dengan jaringan yang terstruktur.
Founder & Group CEO VIDA, Niki Luhur, menyebut pelaku penipuan selalu beradaptasi dengan perkembangan sistem keamanan. Ketika sistem diperkuat, mereka akan kembali menguji celah baru dan melancarkan aksinya dengan metode yang lebih kompleks.
Lonjakan Kasus Menjelang Pencairan THR
Berdasarkan data internal VIDA, sepanjang 2025 lonjakan kasus penipuan paling banyak terjadi menjelang hingga saat pencairan Tunjangan Hari Raya (THR). Pada periode tersebut, aktivitas transaksi digital dan mobilitas masyarakat biasanya meningkat, sehingga membuka lebih banyak peluang bagi pelaku untuk melakukan kejahatan.
Modus Phishing dan Smishing
Salah satu modus yang banyak terjadi adalah phishing atau smishing. Metode ini dilakukan dengan mengirimkan pesan berisi tautan yang memancing korban untuk memasukkan data pribadi seperti username, password, hingga One-Time Password (OTP).
Pesan tersebut sering kali menyamar sebagai pemberitahuan dari jasa pengiriman paket atau promo Ramadan palsu. Bahkan, kini berkembang pula melalui metode fake BTS yang membuat pesan terkirim secara massal dan terlihat seolah berasal dari institusi resmi sehingga tampak meyakinkan.
Modus Malware Berkedok Aplikasi
Selain phishing, pelaku juga menggunakan modus malware. Korban biasanya diminta mengunduh file APK yang tampak seperti dokumen penting, misalnya status pengiriman paket, undangan pernikahan, atau dokumen lainnya yang terlihat relevan.
Jika file tersebut diunduh, aplikasi berbahaya itu dapat memberikan akses bagi pelaku untuk memantau perangkat korban dari jarak jauh, termasuk mengambil password dan berbagai informasi sensitif yang tersimpan di dalam perangkat.
Pentingnya Perlindungan Identitas Digital Berlapis
Kedua modus tersebut pada dasarnya bertujuan sama, yaitu mendapatkan akses ke kredensial pengguna. Hal ini menunjukkan bahwa password saja tidak lagi cukup untuk menjadi benteng keamanan utama di era digital yang semakin kompleks.
Dalam sistem keamanan digital, identitas pengguna sebenarnya terdiri dari tiga lapisan. Pertama adalah what you know, yaitu informasi yang diketahui pengguna seperti password atau pertanyaan keamanan. Kedua adalah what you have, yakni perangkat yang dimiliki pengguna seperti ponsel atau token akses. Ketiga adalah who you are, yaitu identitas biometrik seperti wajah, suara, atau sidik jari yang bersifat unik.
Karena itu, perlindungan identitas digital perlu dilakukan secara berlapis dengan memanfaatkan perangkat serta teknologi biometrik sebagai metode verifikasi tambahan.
Selain menghadirkan solusi teknologi, VIDA juga mengajak masyarakat untuk lebih waspada terhadap berbagai bentuk penipuan digital. Melalui kampanye #JanganAsalKlik, masyarakat diingatkan agar berhati-hati sebelum mengklik tautan, mengunduh aplikasi, atau membagikan informasi pribadi di internet. (MG4)
Editor : Salma
Sumber : idntimes.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel







































