Mengenal Psyllium Husk: Cara Kerja dan Manfaatnya bagi Pencernaan

psyllium husk
ilustrasi psyllium husk. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Serat menjadi salah satu nutrisi penting yang kerap kurang terpenuhi dalam pola makan modern. Di tengah tren gaya hidup sehat, psyllium husk muncul sebagai salah satu suplemen serat alami yang banyak digunakan untuk menjaga kesehatan pencernaan.

Psyllium husk berasal dari kulit biji tanaman Plantago ovata. Serat ini termasuk jenis serat larut yang bekerja dengan cara menyerap air di dalam saluran cerna.

Ahli gizi Julia Zumpano dari Cleveland Clinic menjelaskan mekanisme kerja psyllium di dalam tubuh.

Advertisement

“Ini adalah serat larut, sehingga menyerap air dan membentuk gel yang dapat digunakan dalam makanan atau sebagai suplemen,” jelas Zumpano.

Kemampuannya membentuk gel membuat psyllium sering digunakan sebagai pencahar pembentuk massa (bulk-forming laxative).

Cara kerjanya bukan dengan merangsang kontraksi usus secara langsung, melainkan dengan menambah volume dan berat tinja sehingga memicu gerakan usus secara alami.

Psyllium tersedia dalam berbagai bentuk, mulai dari bubuk, kapsul, hingga minuman siap konsumsi. Bahan ini juga bebas gluten dan mudah dicampurkan ke makanan atau minuman.

Manfaat untuk Pencernaan

Melansir Verywell Health, sejumlah penelitian menunjukkan psyllium memiliki manfaat signifikan untuk kesehatan pencernaan.

Atasi Sembelit

Psyllium membantu mengikat dan menambah massa tinja sehingga lebih mudah dikeluarkan. Studi pada 2019 menunjukkan psyllium sama efektifnya dengan laktulosa dalam mengatasi sembelit kronis, dengan tingkat toleransi yang baik pada peserta penelitian.

Baca Juga :  5 Inspirasi Cheongsam Muslimah Elegan untuk Rayakan Imlek

Bantu Diare dan IBS

Tak hanya sembelit, psyllium juga dapat membantu mengatasi diare karena kemampuannya mengikat tinja yang encer. Pada penderita sindrom iritasi usus (IBS), baik tipe dominan sembelit maupun diare, konsumsi psyllium dilaporkan dapat membantu meredakan kembung, nyeri perut, dan rasa penuh.

Berperan dalam Kesehatan Metabolik

Selain pencernaan, psyllium juga dikaitkan dengan manfaat metabolik.

Turunkan Kolesterol

Serat larut seperti psyllium membantu menurunkan kadar kolesterol LDL atau “kolesterol jahat” dengan cara mengikat asam empedu di usus yang terbentuk dari kolesterol, sehingga membantu tubuh membuangnya.

Beberapa penelitian menunjukkan konsumsi sekitar 10 gram psyllium per hari dapat menurunkan kolesterol total dan LDL secara signifikan. Jika digunakan bersama obat statin, efek penurunannya dilaporkan dapat meningkat.

Kontrol Gula Darah

Pada penderita diabetes tipe 2, psyllium dapat memperlambat penyerapan glukosa di usus. Sejumlah penelitian menunjukkan konsumsi psyllium sebelum makan dapat membantu menurunkan gula darah puasa dan kadar HbA1c.

Namun demikian, psyllium bukan pengganti obat diabetes. Penggunaannya tetap harus dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan sebagai pelengkap terapi utama.

Baca Juga :  Resep Ayam Suwir Frozen Food Praktis dan Bergizi untuk Si Kecil

Bantu Rasa Kenyang, Bukan Obat Ajaib Diet

Karena membentuk gel di saluran cerna, psyllium dapat membuat rasa kenyang bertahan lebih lama dan berpotensi membantu pengendalian nafsu makan.

“Serat dapat membuat Anda merasa kenyang lebih cepat dan lebih lama, yang dapat menurunkan nafsu makan dan asupan keseluruhan,” ujar Zumpano.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa psyllium bukan “obat ajaib” untuk menurunkan berat badan. Efeknya tidak sekuat obat resep seperti agonis GLP-1, melainkan lebih berfungsi sebagai pendukung pola makan tinggi serat dan gaya hidup sehat.

Efek Samping dan Interaksi Obat

Seperti suplemen lainnya, psyllium juga berpotensi menimbulkan efek samping, antara lain kembung, gas, kram perut, mual, hingga diare atau sembelit bila asupan cairan tidak mencukupi.

Psyllium juga dapat berinteraksi dengan sejumlah obat, seperti digoksin, lithium, metformin, serta suplemen zat besi. Karena itu, konsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan dianjurkan sebelum mengonsumsi suplemen ini secara rutin.

Para ahli menekankan bahwa suplemen bukan untuk mengobati atau menyembuhkan penyakit, melainkan sebagai pelengkap pola makan dan gaya hidup sehat.***

Editor : Syafira

Sumber : CNNIndonesia.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel