Di Abad Pertengahan, Hanya Bangsawan yang Boleh Punya Kamar Mandi Pribadi

Kamar Mandi
Newly built home bathroom interior primary or master bath with glass wall shower white marble granite floors and countertops large windows with blinds covering free standing bathtub sinks black fixtures bright spacious modern

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Pada masa kini, kamar mandi menjadi fasilitas wajib di setiap rumah. Namun di masa lalu, khususnya pada era Abad Pertengahan, memiliki kamar mandi pribadi justru menjadi simbol status sosial yang tinggi.

Melansir Futura Sciences, pada periode tersebut tidak semua orang diperbolehkan memiliki toilet di dalam rumah. Hanya kalangan tertentu, terutama bangsawan, yang berhak menikmati fasilitas tersebut.

Kamar Mandi sebagai Simbol Kekuasaan

Di Inggris pada masa Abad Pertengahan, para bangsawan yang tinggal di istana memiliki kamar mandi pribadi di dekat kamar tidur mereka. Bahkan di aula besar istana biasanya tersedia toilet di sudut ruangan agar para bangsawan tidak perlu kembali ke kamar hanya untuk buang air.

Advertisement

Fasilitas ini tidak boleh digunakan sembarang orang. Pelayan atau rakyat biasa harus menggunakan toilet umum yang cenderung kotor dan berbau. Perbedaan akses ini semakin menegaskan jarak sosial antara bangsawan dan masyarakat biasa.

Baca Juga :  Sarwendah Buka Pintu Damai, Ajak Ruben Onsu Bertemu Langsung

Tak hanya itu, bangsawan juga memiliki pelayan khusus yang bertugas merawat dan membersihkan kamar mandi pribadi mereka. Kepemilikan kamar mandi pribadi beserta pelayan khusus menjadi penanda bahwa seseorang memiliki kedudukan penting dan pengaruh besar dalam kerajaan.

Tugas Berat Pelayan Kamar Mandi

Pekerjaan sebagai pelayan kamar mandi bangsawan jauh dari kata mudah. Berbeda dengan petugas kebersihan modern yang dibekali alat dan cairan pembersih, para pelayan pada masa itu harus membersihkan limbah secara manual.

Mereka mengosongkan lubang pembuangan dan sumur limbah dari tumpukan kotoran manusia. Jika tidak dibersihkan, saluran bisa tersumbat dan menimbulkan bau menyengat di lingkungan istana.

Jam kerja mereka pun cukup berat, biasanya dimulai pukul 21.00 hingga 05.00 pagi setiap hari. Hal ini dilakukan agar kamar mandi sudah dalam kondisi bersih sebelum digunakan kembali oleh para bangsawan keesokan harinya.

Baca Juga :  Resep Tibs Ethiopia: Tumis Daging Juicy dengan Bumbu Autentik

Ironisnya, upah yang diterima pelayan kebersihan dihitung berdasarkan jumlah kotoran yang berhasil dibersihkan. Semakin banyak yang dikumpulkan, semakin besar bayaran yang diterima.

Risiko Kesehatan yang Tinggi

Pada masa itu, belum ada pemahaman memadai tentang sanitasi dan bahaya bakteri. Limbah manusia kerap dibuang tanpa sistem pengolahan yang aman. Kondisi ini membuat para pelayan kebersihan berisiko tinggi terpapar penyakit.

Selama kamar mandi dibersihkan, bangsawan biasanya menggunakan pispot yang disediakan di kamar tidur sebagai solusi sementara saat malam hari.

Kisah ini menunjukkan bahwa fasilitas yang kini dianggap kebutuhan dasar dulunya merupakan kemewahan eksklusif. Kamar mandi pribadi bukan sekadar ruang sanitasi, melainkan simbol kekuasaan dan hierarki sosial pada Abad Pertengahan.***

Editor : Syafira

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel