Tak Cuma Soal Visa, Perilaku Ini Bisa Bikin Turis Didenda di Eropa

Eropa
Ilustrasi liburan keluar negeri. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Liburan ke Eropa tak selalu sebebas yang dibayangkan. Di sejumlah negara, kebiasaan yang dianggap wajar oleh wisatawan justru bisa berujung denda jutaan rupiah. Mulai dari menyeret koper hingga memberi makan merpati, aturan ketat diterapkan demi menjaga warisan budaya dan ketertiban kota.

Di Italia, misalnya, wisatawan tak bisa sembarangan menarik koper beroda di lokasi tertentu. Di Roma, menyeret koper di area ikonik Spanish Steps dilarang berdasarkan aturan ketertiban kota. Pelanggar terancam denda mulai 250 euro (sekitar Rp5 juta), dan bisa meningkat hingga 400 euro (sekitar Rp8 juta) atau lebih bila menyebabkan kerusakan.

Aturan serupa juga berlaku di Portofino. Di kota pesisir tersebut, wisatawan tidak diperbolehkan berlama-lama di area padat sambil membawa koper. Denda yang dikenakan bahkan bisa mencapai 500 euro (sekitar Rp9,9 juta).

Advertisement

Mengutip Daily Mail, CEO perusahaan penitipan bagasi Stasher, Jacob Wedderburn-Day, menilai banyak pelancong belum memahami aturan-aturan tersebut.

“Aturan-aturan ini mengarahkan orang untuk melakukan apa yang terasa sepenuhnya normal saat tiba di kota baru: membawa tas dan langsung menuju ke tempat-tempat ikonik,” ujarnya.

Menurut Jacob, pembatasan itu bukan tanpa alasan. Tangga-tangga marmer bersejarah di Roma, kata dia, tak dirancang untuk menahan tekanan roda koper modern yang melintas jutaan kali setiap tahun.

“Masalahnya adalah tangga marmer yang telah berdiri selama berabad-abad itu tidak mampu menahan jutaan roda koper yang melintasinya setiap tahun. Bahkan getaran akibat koper yang terpental menuruni tangga dapat menyebabkan kerusakan mikroskopis yang menumpuk seiring waktu,” terang Jacob.

Baca Juga :  Beredar di Eropa Hingga Jadi Maskot Olimpiade Spanyol

Ia menambahkan, aparat di Roma rutin berpatroli di titik-titik wisata dan dapat langsung menindak pelanggaran. Karena itu, ia mengingatkan wisatawan agar tidak menjadikan hari kedatangan sebagai waktu berkeliling jika masih membawa barang bawaan.

“Jangan pernah menganggap hari kedatangan Anda sebagai hari jalan-jalan jika Anda masih membawa tas Anda. Sebaiknya langsung menuju akomodasi Anda atau gunakan layanan penitipan bagasi terlebih dahulu karena didenda oleh polisi setempat sebelum liburan Anda dimulai bukanlah pengalaman yang diinginkan siapa pun,” ia menjelaskan.

Larangan Lain yang Sering Tak Disadari

Tak hanya soal koper, sejumlah destinasi Eropa juga menerapkan aturan perilaku lain yang kerap luput dari perhatian turis.

Di Yunani, pengunjung situs kuno seperti Akropolis dan Teater Epidaurus dilarang mengenakan sepatu hak runcing. Pelanggaran dapat berujung denda hingga 900 euro (sekitar Rp17 juta).

“Yunani telah melarang sepatu berhak runcing di situs-situs kuno, termasuk Akropolis dan Teater Epidaurus. Denda karena mengabaikannya bisa mencapai 900 euro. Pada permukaan yang berusia ribuan tahun, satu langkah saja dapat menyebabkan retakan mikro. Ini adalah salah satu denda tersembunyi termahal dalam pariwisata Eropa,” ucap Jacob.

Sementara itu di Spanyol, pengemudi yang mengenakan sandal jepit dapat didenda hingga 200 euro (sekitar Rp3,9 juta) jika dinilai mengganggu kendali kendaraan. Penentuan pelanggaran berada di tangan petugas Guardia Civil.

Baca Juga :  PERAN WALI KELAS CEGAH TAWURAN SAAT LIBURAN

Aturan berpakaian juga diberlakukan di sejumlah kota wisata. Di Barcelona, mengenakan bikini atau celana renang di luar pantai bisa dikenai denda hingga 300 euro (sekitar Rp5 juta). Di Majorca dan wilayah Kepulauan Balearic lainnya, dendanya bahkan dapat mencapai 600 euro (sekitar Rp11 juta).

Di Sorrento, aturan serupa berlaku bagi pria maupun wanita. Turis yang berjalan tanpa atasan atau masuk restoran dengan pakaian tidak pantas terancam denda hingga 500 euro (sekitar Rp9 juta).

Sementara itu, di Venesia, memberi makan merpati telah dilarang sejak 2008. Pelanggar bisa didenda hingga 500 euro.

“Memberi makan merpati di mana pun di Venesia telah ilegal sejak tahun 2008, dengan denda hingga 500 euro. Kotoran dan patukan merpati menyebabkan kerusakan serius pada fasad marmer Venesia yang rapuh, dan biaya pembersihannya mencapai ratusan euro per penduduk setiap tahun. Masalah ini ditangani dengan sangat serius,” lengkapnya.

Berbagai aturan tersebut menunjukkan bahwa menjaga warisan sejarah dan ketertiban kota menjadi prioritas utama banyak negara Eropa. Bagi wisatawan, memahami regulasi lokal sebelum berangkat bukan hanya soal etika, tetapi juga cara menghindari denda mahal yang bisa merusak suasana liburan.***

Editor : Syafira

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel