
TIMETODAY.ID, JAKARTA — Pemerintah Ukraina dilaporkan tengah mempertimbangkan langkah politik besar di tengah konflik berkepanjangan dengan Rusia. Kiev disebut membuka peluang menggelar referendum pada musim semi tahun ini guna menentukan status sebagian wilayah di Donetsk sebagai bagian dari upaya mencapai gencatan senjata.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dikabarkan siap mempertimbangkan pelepasan kendali atas sebagian wilayah Donetsk apabila langkah tersebut mampu membuka jalan menuju penghentian perang.
Rencana ini mencerminkan tekanan besar yang dihadapi pemerintah Ukraina setelah konflik yang berlangsung sejak 2022 belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Informasi mengenai kemungkinan referendum ini diungkap seorang penasihat Zelensky kepada media Amerika Serikat, The Atlantic.
Pemerintah Ukraina disebut tengah mengkaji opsi referendum sebagai cara untuk melegitimasi keputusan politik yang berpotensi memicu polemik domestik maupun internasional.
Berdasarkan laporan tersebut, referendum kemungkinan akan dilaksanakan bersamaan dengan pemilihan presiden Ukraina. Zelensky disebut bersedia menerima apa pun hasil pemungutan suara tersebut, sekaligus berharap dukungan publik tetap mengalir untuk kelanjutan kepemimpinannya di tengah situasi perang.
Langkah ini dipandang sebagai konsesi besar dari Kiev. Konflik militer antara Ukraina dan Rusia yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun telah menimbulkan kerugian besar, baik dari sisi kemanusiaan, ekonomi, maupun stabilitas kawasan.
Namun, pelepasan sebagian wilayah Donetsk diperkirakan belum tentu memenuhi tuntutan Moskow.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov sebelumnya menegaskan bahwa berdasarkan konstitusi Rusia, sejumlah wilayah Ukraina seperti Krimea, Donetsk, Luhansk, Zaporizhzhia, dan Kherson dianggap sebagai bagian dari Federasi Rusia.
Di tengah dinamika konflik tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga sempat menyampaikan keyakinannya bahwa konflik Rusia-Ukraina tidak akan memicu Perang Dunia III, meski ketegangan geopolitik global terus meningkat.
Jika referendum di Donetsk benar digelar tahun ini, keputusan tersebut berpotensi menjadi titik penting dalam proses negosiasi damai.
Namun, langkah itu juga membuka kemungkinan munculnya tantangan baru, baik dalam hubungan diplomatik maupun stabilitas politik di kawasan Eropa Timur.***
Editor : Syafira
Sumber : iNews.id
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































