Putra Muammar Gaddafi, Saif al-Islam, Dilaporkan Tewas dalam Serangan Bersenjata

Gaddafi
putra mendiang pemimpin Libya Muammar Gaddafi Foto: NRM E-Club Nakawa/Facebook

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Saif al-Islam Gaddafi, putra mendiang pemimpin Libya Muammar Gaddafi, dilaporkan meninggal dunia setelah diserang sekelompok pria bersenjata. Informasi mengenai kematian tokoh politik kontroversial itu disampaikan Kantor berita Saif al-Islam pada Selasa (3/2/2026), seperti dilaporkan Reuters.

Dalam laporan tersebut disebutkan Saif tewas setelah empat orang bersenjata tak dikenal menerobos masuk ke kediamannya. Hingga kini, belum ada rincian lanjutan yang dipublikasikan kepada publik terkait kronologi maupun motif serangan tersebut.

Meski tidak pernah menduduki jabatan resmi dalam pemerintahan, Saif al-Islam selama bertahun-tahun dikenal sebagai figur berpengaruh di Libya. Ia bahkan sempat dianggap sebagai penerus kekuasaan ayahnya yang memimpin negara kaya minyak di Afrika Utara itu selama lebih dari empat dekade.

Advertisement

Saif memainkan peran penting dalam sejumlah kebijakan strategis Libya. Ia pernah memimpin negosiasi penghentian program senjata pemusnah massal negara tersebut serta menjadi tokoh utama dalam pembicaraan kompensasi bagi keluarga korban pengeboman pesawat Pan Am Penerbangan 103 di Lockerbie, Skotlandia, pada 1988.

Dalam upayanya menghapus stigma Libya sebagai negara “paria”, Saif aktif membangun hubungan diplomatik dengan negara-negara Barat. Ia juga berusaha membentuk citra sebagai reformis dengan mendorong pembentukan konstitusi dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Baca Juga :  Janji Rudy Susmanto-Jaro Ade Prioritaskan Air Bersih hingga Infrastruktur di Rumpin

Dari Wajah Reformasi ke Loyalis Kekuasaan

Lulusan London School of Economics yang fasih berbahasa Inggris ini sempat dipandang banyak pemerintah Barat sebagai representasi Libya yang lebih moderat. Namun, arah politiknya berubah drastis ketika gelombang pemberontakan melawan rezim Gaddafi meletus pada 2011.

Saif memilih berpihak pada keluarga dan kekuasaan ayahnya. Ia menjadi salah satu tokoh yang mendukung operasi militer terhadap kelompok pemberontak, yang ia sebut sebagai “tikus”.

Dalam wawancara dengan Reuters saat konflik berlangsung, Saif menegaskan, “Kami bertempur di sini di Libya, kami mati di sini di Libya.”

Ia juga memperingatkan konflik akan membawa kehancuran besar bagi negara tersebut.

“Seluruh Libya akan hancur. Kita akan butuh 40 tahun untuk mencapai kesepakatan tentang cara menjalankan negara ini, karena hari ini, semua orang ingin menjadi presiden, atau emir, dan semua orang ingin menjalankan negara,” ujarnya dalam siaran televisi sambil mengacungkan jari ke arah kamera.

Penangkapan dan Tahun-Tahun dalam Penahanan

Baca Juga :  Viral Foto Diduga Bahlil Lahadalia Bersama Minuman Keras : Apa Kata Para Pakar?

Setelah pasukan pemberontak berhasil menguasai Tripoli, Saif berusaha melarikan diri ke Niger dengan menyamar sebagai anggota suku Badui. Namun, upaya itu gagal setelah ia ditangkap milisi Brigade Abu Bakr Sadik di wilayah gurun dan dibawa ke kota Zintan, sekitar sebulan setelah Muammar Gaddafi tewas diburu pemberontak.

Dalam rekaman audio yang beredar saat penangkapannya, Saif menyatakan, “Saya tetap di sini. Mereka akan mengosongkan isi senjata mereka ke tubuh saya saat saya keluar dari sini.”

Penangkapan tersebut terjadi setelah keberadaannya dibocorkan oleh seorang nomaden Libya. Saif kemudian menjalani enam tahun masa penahanan di Zintan, jauh dari kehidupan mewah yang pernah ia nikmati saat rezim ayahnya berkuasa.

Pada masa lalu, Saif dikenal menjalani gaya hidup glamor, termasuk memelihara harimau, berburu menggunakan elang, serta bergaul dengan kalangan elite Inggris saat berada di London.

Organisasi Human Rights Watch pernah menemui Saif selama masa penahanannya. Direktur HRW untuk Libya, Hanan Salah, menyebut Saif tidak melaporkan adanya penyiksaan. Namun, ia menyoroti kondisi penahanan yang membuat Saif hampir selalu berada di sel isolasi.***

Editor : Syafira

Sumber : Okezone.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel