
TIMETODAY.ID, JAKARTA – Virus Nipah (NiV) kembali menjadi perhatian karena termasuk penyakit zoonosis, yakni infeksi yang dapat menular dari hewan ke manusia. Kelelawar buah diketahui sebagai reservoir alami utama virus ini, dengan potensi penularan melalui hewan perantara seperti babi, kontak langsung dengan hewan terinfeksi, hingga konsumsi makanan yang terkontaminasi.
Penyakit ini tergolong serius karena memiliki tingkat kematian yang tinggi, diperkirakan mencapai 40–75 persen. Hingga kini, belum tersedia terapi spesifik maupun vaksin yang disetujui secara luas. Gejala awal umumnya menyerupai infeksi virus biasa, seperti demam dan nyeri tubuh, namun pada kondisi berat dapat berkembang menjadi radang otak (ensefalitis) yang berisiko fatal.
Manusia Bisa Tertular dari Hewan Pembawa Virus
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio(K), menjelaskan bahwa penularan virus Nipah sangat berkaitan dengan interaksi manusia dan hewan pembawa virus, terutama kelelawar buah.
“Virus Nipah terutama berasal dari kelelawar, tetapi juga bisa menular melalui babi atau hewan ternak lain,” ujar Piprim dalam media briefing virtual Mengenal dan Mewaspadai Nipah, Kamis (29/1/2026).
Penularan dapat terjadi ketika seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi cairan tubuh kelelawar, seperti air liur, urine, atau kotoran. Risiko ini meningkat apabila masyarakat mengonsumsi buah yang jatuh atau buah yang tampak masih layak, tetapi sudah digigit hewan.
“Kebiasaan seperti anak-anak memakan buah yang sudah digigit kelelawar perlu diwaspadai. Jika kelelawar membawa virus Nipah, maka penularan ke manusia, termasuk anak-anak, bisa terjadi,” jelasnya.
Upaya Memutus Rantai Penyebaran Virus Nipah
Peran orang tua dan masyarakat menjadi kunci dalam memutus potensi penularan virus Nipah. Orang tua diimbau memastikan anak hanya mengonsumsi buah yang bersih dan utuh, serta membiasakan cuci tangan sebelum makan.
Selain itu, masyarakat juga diminta untuk lebih peka terhadap kondisi lingkungan, termasuk segera melaporkan kematian hewan liar atau ternak yang terjadi secara mendadak dan tidak wajar kepada pihak berwenang.
“Kolaborasi antara orang tua, masyarakat, dan tenaga kesehatan perlu ditingkatkan. Pelaporan dini sangat penting untuk mencegah penyebaran penyakit,” kata Piprim.
Langkah ini sejalan dengan pendekatan One Health, yang menekankan kerja sama antara sektor kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dalam menghadapi penyakit zoonosis.
Terapkan PHBS sebagai Benteng Pertama
Gejala awal infeksi virus Nipah kerap menyerupai penyakit virus pada umumnya, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, dan rasa lemas. Karena itu, penyakit ini sering tidak disadari pada tahap awal. Namun, pada sebagian kasus, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan hingga radang otak yang berbahaya.
“Gejala awal biasanya demam dan nyeri badan, tetapi penyakit ini berpotensi berkembang menjadi radang otak dan komplikasi serius lainnya,” ujar Piprim.
Dalam kondisi belum tersedianya obat dan vaksin spesifik, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) menjadi langkah pencegahan paling efektif. Mulai dari mencuci tangan, menjaga kebersihan makanan, menghindari konsumsi buah yang rusak atau bekas gigitan hewan, hingga menjaga kebersihan lingkungan.
Kewaspadaan yang dibarengi edukasi dan perilaku sehat diharapkan dapat menekan risiko penularan virus Nipah tanpa menimbulkan kepanikan di masyarakat. (MG4)
Editor : Salma
Sumber : idntimes.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































