TIMETODAY.ID, JAKARTA — Ketegangan politik dan keamanan kembali membayangi Iran. Di tengah gelombang unjuk rasa yang berubah menjadi aksi kekerasan, Presiden Iran Masoud Pezeshkian melontarkan tudingan keras kepada Amerika Serikat dan Israel, dua negara yang ia sebut sebagai musuh utama Republik Islam tersebut.
Dalam pernyataan perdananya sejak demonstrasi merebak dan memanas, Pezeshkian menilai kekacauan yang melanda Iran bukan sekadar luapan kekecewaan rakyat terhadap kondisi ekonomi, melainkan bagian dari skenario yang lebih besar.
“Musuh-musuh Iran berupaya menebar kekacauan dan ketidakstabilan,” ujar Pezeshkian dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah, Senin (12/1/2026).
Unjuk rasa yang awalnya muncul sebagai protes atas memburuknya kondisi ekonomi sejak bulan lalu, dalam sepekan terakhir berubah menjadi kerusuhan. Sejumlah fasilitas publik dilaporkan menjadi sasaran, termasuk masjid dan pusat-pusat aktivitas masyarakat di Teheran serta kota-kota lain.
Pezeshkian mengecam keras serangan-serangan tersebut. Menurutnya, kekerasan yang terjadi tidak mencerminkan karakter masyarakat Iran. Ia bahkan menuding ada keterlibatan aktor eksternal yang sengaja memperkeruh situasi.
Dalam wawancara yang dikutip media pemerintah Press TV, Pezeshkian menyebut Amerika Serikat dan Israel telah “melatih kelompok-kelompok tertentu” serta menyusupkan “teroris dari luar negeri” untuk melakukan sabotase.
“Orang-orang ini terlatih,” katanya. “Mereka membakar masjid, pasar, dan tempat umum. Ini bukan tindakan para demonstran.”
Ia menegaskan pemerintah membedakan antara rakyat yang menyampaikan aspirasi secara damai dan kelompok yang melakukan kekerasan. Pemerintah, kata Pezeshkian, tetap membuka ruang dialog bagi warga yang memiliki keluhan.
“Kami mendengarkan para demonstran dan telah berupaya semaksimal mungkin untuk menyelesaikan masalah mereka,” ujarnya.
Namun, Pezeshkian menggambarkan tindakan para pelaku kerusuhan sebagai kejahatan serius yang tidak bisa ditoleransi. Ia menyebut adanya pembunuhan, pembakaran, hingga tindakan brutal lain yang menurutnya “jauh dari sifat rakyat Iran”.
“Mereka bukan rakyat kita. Mereka bukan bagian dari negara ini,” tegasnya.
Pezeshkian kembali mengaitkan kerusuhan tersebut dengan kegagalan Amerika Serikat dan Israel dalam konflik bersenjata yang terjadi selama 12 hari pada Juni tahun lalu. Menurutnya, setelah gagal memaksa Iran tunduk melalui perang, kedua negara kini mencoba jalan lain.
“Mereka gagal membuat rakyat Iran bertekuk lutut, dan sekarang mencoba mencapainya melalui kerusuhan,” ucapnya.
Dalam pesannya kepada generasi muda, Pezeshkian mengimbau agar tidak mudah terprovokasi. Ia juga meminta keluarga di Iran untuk lebih waspada dan tidak membiarkan anak-anak mereka terseret dalam aksi kekerasan.
“Jika rakyat memiliki kekhawatiran, itu adalah kewajiban kami untuk menjawabnya,” kata Pezeshkian. “Namun kewajiban yang lebih besar adalah memastikan sekelompok perusuh tidak merusak kehidupan seluruh masyarakat.”
Pernyataan ini menegaskan sikap pemerintah Iran yang melihat krisis saat ini bukan hanya sebagai persoalan domestik, tetapi juga sebagai medan baru dalam konflik geopolitik yang lebih luas.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































