TIMETODAY.ID, JAKARTA — Bumi memiliki banyak wilayah dengan suhu ekstrem. Namun ketika berbicara tentang kota terdingin di dunia pada 2025, jawabannya ternyata bukan berada di Kutub Utara atau Antartika, melainkan di jantung Rusia. Kota itu bernama Yakutsk, sebuah wilayah yang dikenal sebagai kota terdingin di dunia dengan jumlah penduduk besar.
Mengutip Science Focus BBC, Yakutsk mencatat sejarah suhu ekstrem yang nyaris tak terbayangkan. Rekor suhu terendah terjadi pada 5 Februari 1891, ketika termometer anjlok hingga minus 64,4 derajat Celsius. Lebih dari seabad kemudian, dingin itu belum banyak berubah. Pada Januari 2025, suhu rata-rata terendah di Yakutsk masih bertahan di kisaran minus 42 derajat Celsius, dengan paparan sinar matahari yang tak sampai empat jam per hari.
Ironisnya, kota yang membeku selama berbulan-bulan ini justru bisa terasa hangat saat musim panas tiba. Pada bulan Juli, suhu rata-rata tertinggi Yakutsk dapat mencapai 26 derajat Celsius, bahkan lebih hangat dibandingkan London pada periode yang sama. Kontras suhu inilah yang menjadikan Yakutsk salah satu kota dengan rentang temperatur paling ekstrem di dunia.
Sepanjang tahun, Yakutsk hidup di antara dua kutub musim. Musim dingin menghadirkan suhu minus 35 hingga minus 42 derajat Celsius, sementara musim panas membawa udara hangat di atas 20 derajat Celsius. Saat ini, kota tersebut dihuni sekitar 355.000 penduduk, jumlah yang hampir setara dengan populasi Kota Sukabumi di Jawa Barat.
Mengapa Yakutsk Bisa Sedemikian Dingin?
Meski tidak berada paling dekat dengan Kutub Utara, Yakutsk tetap menyandang gelar kota terdingin karena kombinasi sejumlah faktor alam. Pertama, lokasinya berada jauh di daratan, sekitar 725 kilometer dari Laut Okhotsk, sehingga tidak mendapat efek penyeimbang suhu dari laut.
Kedua, wilayah Siberia pada musim dingin dikuasai sistem tekanan tinggi yang dikenal sebagai Siberian High. Sistem ini membawa massa udara Arktik dan menyebabkan periode dingin ekstrem yang berlangsung lama. Ketiga, selama musim dingin Yakutsk hanya menerima kurang dari empat jam cahaya matahari per hari, memperparah suhu yang sudah membeku.
Faktor keempat adalah kondisi geografis kota yang berdiri di atas permafrost permanen—tanah yang membeku sepanjang tahun. Kondisi ini membuat panas sulit tersimpan dan memperkuat suhu ekstrem di kawasan tersebut.
Di balik kerasnya alam, Yakutsk tetap menjadi kota yang hidup. Sebagian besar penduduknya bekerja di Alrosa, perusahaan pengelola salah satu tambang berlian terbesar di dunia, yang menjadi tulang punggung perekonomian lokal.
Meski Yakutsk dikenal sebagai kota terdingin, rekor tempat berpenghuni terdingin di dunia sebenarnya dipegang oleh Oymyakon, sebuah desa kecil terpencil di Rusia dengan sekitar 500 penduduk. Desa ini pernah mencatat suhu ekstrem hingga minus 71,2 derajat Celsius.
Dalam kondisi sedingin itu, kehidupan berjalan dengan aturan tersendiri. Kendaraan yang diparkir di luar rumah harus dibiarkan menyala terus-menerus. Jika mesin dimatikan, kendaraan berisiko membeku total dan tak bisa dinyalakan kembali—sebuah gambaran nyata bagaimana manusia beradaptasi di salah satu lingkungan paling ekstrem di planet ini.***
Editor : Syafira
Sumber : CNBCIndonesia.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel








































