Film Horor Indonesia Dinilai Punya Peluang Tembus Pasar Korea Selatan

film
ilustrasi menonton film bioskop. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Industri film Indonesia berpeluang menembus layar bioskop Korea Selatan. Tidak lagi sebatas menjadi pengadopsi film-film Negeri Ginseng akibat kuatnya pengaruh Korean Wave, sinema Tanah Air kini mulai dilirik sebagai calon eksportir karya ke pasar Korsel.

Selama beberapa tahun terakhir, Indonesia memang kerap mengadaptasi film Korea Selatan. Mulai dari Sunny yang diadaptasi menjadi Bebas (2019), hingga Miracle Cell No.7, My Annoying Brother, dan Pawn (2020) yang di Indonesia diangkat ulang menjadi Panggil Aku Ayah (2025).

Namun, peluang kini mulai berbalik arah. Program Director for International Film di Busan Cinema Center, Chun Hye-Jin, menyebut ada sejumlah langkah strategis yang dapat dilakukan Indonesia untuk memperkuat posisi industrinya agar mampu menembus pasar film Korea Selatan.

Advertisement

Perkuat Genre Unggulan

Menurut Chun Hye-Jin, kunci utama terletak pada penguatan genre yang telah memiliki identitas kuat di mata penonton internasional. Ia menilai film horor Indonesia memiliki ciri khas yang menonjol dan sudah dikenal secara global, sehingga berpotensi besar diterima pasar Korea Selatan.

“Genre horor Indonesia bisa menjadi salah satu pintu masuk ke industri perfilman Korea,” ujar Chun dalam diskusi yang digelar Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) bersama Korea Foundation, dikutip Senin (29/12/2025).

Ia mencontohkan Thailand yang sukses memosisikan genre Boys Love atau bromance sebagai identitas nasional di pasar internasional. Pendekatan serupa, kata Chun, bisa diterapkan Indonesia melalui film horor sebagai titik awal.

Baca Juga :  Infinity Castle Tembus Rp 500 Miliar, Demon Slayer Buktikan Taji di Box Office Jepang

“Setiap negara perlu memiliki tema yang langsung teringat di benak publik. Thailand dengan boys love-nya, dan Indonesia bisa dengan horor,” tegasnya.

Peran Penting Dukungan Korporasi

Faktor lain yang tak kalah penting adalah dukungan promosi dari perusahaan besar. Chun menilai, kesuksesan film dan serial Korea Selatan di pasar global, seperti Squid Game dan Parasite, tak lepas dari sokongan perusahaan raksasa.

“Film-film tersebut mendapat dukungan besar dari korporasi seperti CJ yang menyediakan pembiayaan promosi internasional,” jelasnya.

Tanpa dukungan serupa, menurut Chun, akan sulit bagi film dari negara mana pun menembus pasar global secara berkelanjutan.

Horor Jadi Jembatan Budaya

Pandangan tersebut diamini Chief Marketing Officer CGV Indonesia, Ssun Kim. Ia menilai terdapat kesamaan nilai budaya antara Indonesia dan Korea Selatan yang membuat film, khususnya horor, lebih mudah diterima oleh penonton lintas negara.

Ia mencontohkan film horor Korea Exhuma (2024) yang sukses besar di Indonesia dengan 2,6 juta penonton, meski awalnya tidak dirancang khusus untuk pasar Tanah Air.

“Film ini sangat beresonansi karena masyarakat Indonesia memang menyukai horor dan film tersebut menyentuh nilai budaya yang dekat,” ujarnya.

Baca Juga :  Rekomendasi Film Seru untuk Menemani Perayaan Tema Imlek 2024

Subtitle dan Transparansi Data Jadi Kunci

Ssun Kim juga menekankan pentingnya kualitas subtitle dalam upaya menembus pasar Korea Selatan. Menurutnya, terjemahan yang akurat sangat krusial agar nuansa emosional dan pesan budaya film Indonesia dapat tersampaikan dengan tepat kepada penonton Korsel.

“Jika ingin membangun emosi, subtitle yang benar adalah kuncinya,” tegasnya.

Selain itu, ia menyoroti perlunya transparansi data industri film Indonesia, seperti jumlah penayangan dan total penonton. Keterbukaan data dinilai penting untuk analisis pasar dan pengambilan keputusan strategis.

“Di Korea, data industri film sangat mudah diakses. Sementara di Indonesia masih tertutup, sehingga sulit untuk melakukan analisis,” ujarnya.

Industri Film Korea Tengah Tertekan

Sebagai catatan, Korea Selatan memang dikenal sebagai salah satu eksportir hiburan terbesar dunia dengan nilai ekspor mencapai US$15,18 miliar pada 2024. Namun, sektor perfilman domestiknya tengah menghadapi tekanan.

Jumlah penonton bioskop Korsel sempat mencapai puncak 226,67 juta orang pada 2019. Angka tersebut turun drastis pascapandemi, menjadi 123,12 juta pada 2024, atau merosot 45,7 persen. Pada 2025, jumlah penonton diproyeksikan hanya sekitar 69,98 juta, nyaris menyamai capaian tahun sebelumnya.

Kondisi ini dinilai dapat menjadi peluang bagi film asing, termasuk dari Indonesia, untuk mengisi ruang baru di pasar bioskop Korea Selatan.***

Editor : Syafira

Sumber : CNBCIndonesia.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel