TIMETODAY.ID, JAKARTA — Setiap hari ia digunakan untuk membersihkan piring, gelas, hingga peralatan masak yang berminyak. Spons dapur memang tampak sederhana, namun justru menyimpan ancaman tersembunyi yang sering diabaikan. Dari yang awalnya kaku dan keras, spons lama-kelamaan menjadi lembut karena menyerap air, sisa makanan, dan minyak.
Masalahnya, spons tidak dirancang untuk dipakai selamanya. Banyak orang tetap menggunakannya sampai hancur atau menipis, tanpa menyadari bahwa di balik teksturnya yang lembut, spons bisa berubah menjadi sarang kuman berbahaya.
Fungsi spons memang untuk membersihkan. Namun ironisnya, benda ini justru menjadi salah satu alat paling kotor di dapur. Sisa makanan dari piring, sendok, dan wajan yang kerap menempel membuat spons menjadi tempat ideal bagi bakteri untuk berkembang biak.
362 Spesies Bakteri Hidup di Spons Dapur
Temuan mengejutkan datang dari studi tahun 2017 yang diterbitkan dalam Scientific Reports. Penelitian tersebut menemukan bahwa sebanyak 362 spesies bakteri berbeda dapat hidup di dalam satu spons dapur.
Ketua Klinis Pencegahan Infeksi dan Pengendalian Penyakit di Rumah Sakit Westmead dan Universitas Sydney, Ramon Shaban, mengungkapkan bahwa bakteri berbahaya juga ditemukan di sana.
“Ini adalah serangga yang biasanya menyebabkan penyakit diare,” kata Profesor Shaban, seperti dikutip Kamis (4/12/2025).
Tak berhenti di situ, riset lanjutan yang dikutip situs Today pada 2019 juga menyebut spons sebagai alat kebersihan paling terkontaminasi di rumah tangga. Para peneliti di Italia menemukan bahwa spons cuci piring adalah habitat ideal bagi mikroorganisme dan patogen bawaan makanan.
“Temuan ini menimbulkan kekhawatiran yang jauh lebih besar, mengingat sabun cuci piring biasa atau senyawa kimia tidak secara signifikan mengurangi jumlah mikroba pada spons dapur,” tulis para peneliti dalam makalah tersebut.
Lalu, Seberapa Sering Spons Harus Diganti?
Menurut Profesor Shaban, frekuensi penggantian spons sangat bergantung pada seberapa sering digunakan dan untuk apa spons tersebut dipakai. Namun, langkah pertama yang paling penting adalah mengikuti petunjuk produsen.
“Aturan penting yang pertama adalah mengikuti petunjuk pabrik,” kata Profesor Shaban.
Jika tidak ada petunjuk khusus, para ahli menyarankan spons diganti setiap satu sampai dua minggu. Meski tampilan luar masih utuh, tidak robek, dan terasa nyaman di tangan, spons tetap harus dibuang karena secara mikrobiologis sudah tidak higienis.
Shaban juga mengingatkan pentingnya kebiasaan setelah spons digunakan.
“Jika spons dapur digunakan lebih dari sekali, pastikan kamu membilas spons hingga bersih dan menjemurnya hingga kering. Bakteri tumbuh subur di lingkungan yang lembap,” sarannya.
Membersihkan Spons, Perlu atau Tidak?
Banyak orang mencuci spons setelah digunakan dengan harapan spons kembali steril. Namun, penelitian justru menunjukkan bahwa mencuci spons tidak sepenuhnya membasmi bakteri. Sebagian kuman memang mati, tetapi jumlah bakteri yang tersisa masih cukup besar.
Meski begitu, ada beberapa metode yang bisa dilakukan untuk menekan pertumbuhan mikroba, meskipun tidak menjamin sterilisasi total, yaitu:
- Merendam spons dengan air sabun panas, lalu memanaskannya di microwave selama dua menit.
- Merendam spons selama satu menit dalam larutan ½ sendok teh pemutih pekat dengan 1 liter air hangat.
Namun, para ahli tetap menegaskan bahwa cara paling aman adalah mengganti spons secara rutin, idealnya setiap minggu, agar peralatan makan dan masakan tetap higienis.
Spons Kecil, Risiko Besar
Dari luar, spons hanya tampak sebagai alat cuci biasa. Namun di balik pori-porinya, ratusan jenis bakteri bisa bersembunyi dan berpindah ke peralatan makan. Jika dibiarkan terlalu lama, spons tak lagi menjadi alat kebersihan—melainkan sumber penyakit.
Karena itu, mengganti spons secara berkala bukan soal boros, tapi soal menjaga kesehatan keluarga.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel








































