Hati-Hati! Banyak Spatula Silikon di Pasaran Ternyata Dicampur Plastik

Spatula
ilustrasi Spatula silikon. Foto: Istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Spatula mungkin terlihat seperti alat dapur sederhana, tetapi tidak semua spatula aman untuk digunakan sehari-hari. Ada berbagai bahan yang umum dipakai—mulai dari kayu, plastik, silikon, hingga stainless steel.

Namun menurut ahli biomedik IPB University, Benedikta Diah Saraswati, S.Si., M.Biomed, beberapa jenis spatula justru berisiko membahayakan kesehatan bila kualitasnya buruk.

Ciri-Ciri Spatula Berbahaya

Diah menjelaskan bahwa spatula berbahan silikon sebetulnya termasuk yang paling aman. Namun, banyak produk “silikon murah” di pasaran ternyata dicampur dengan plastik.

Advertisement

“Jika silikon mudah berubah warna, terlalu murah, atau berbau kimia kuat, besar kemungkinan mengandung plastik,” ujarnya, dikutip dari laman resmi IPB University.

Cara sederhana untuk mengecek keaslian silikon adalah dengan menekuk spatulanya.
“Jika berubah warna putih atau retak, artinya ada campuran plastik. Silikon murni tidak berubah warna,” tambahnya.

Baca Juga :  210 Perangkat Desa Lulus SPD 2025, Dorong Tata Kelola Desa Lebih Baik

Untuk memastikan keamanan, pilih spatula silikon yang:

  • Food grade
  • BPA-free
  • Phthalate-free
  • Berlabel Platinum-cured silicone

Silikon murni aman karena bahan dasarnya berupa rantai silika yang stabil, tahan panas hingga 250°C, dan tidak mengandung aditif kimia berbahaya.

Alternatif Aman Selain Silikon

Diah juga merekomendasikan material lain untuk penggunaan harian:

  • Kayu alami atau bambu, karena memiliki sifat antimikroba alami.
  • Stainless steel, cocok untuk suhu sangat tinggi, namun sebaiknya tidak digunakan pada wajan antilengket karena dapat merusak lapisan permukaannya.

“Untuk dapur rumah tangga, pilihan paling aman adalah kombinasi spatula silikon food grade untuk wajan antilengket dan spatula kayu untuk memasak suhu sedang,” sarannya.

Kenapa Harus Menghindari Spatula Plastik?

Menurut Diah, spatula berbahan plastik paling rentan mengalami thermal degradation, yaitu kerusakan struktur plastik akibat panas. Ketika ini terjadi, berbagai senyawa berbahaya dapat terlepas ke dalam makanan.

Baca Juga :  Aksi Damai di Depan IPB University, Massa Tuntut Pemekaran Bogor Barat

Beberapa zat yang dapat muncul antara lain:

  • Bisphenol A (BPA)
  • Phthalate
  • Formaldehida
  • Amina aromatik

Senyawa ini dikenal sebagai endocrine disruptors, yang dapat memicu:

  • Gangguan hormon dan kesuburan
  • Resistensi insulin
  • Gangguan perkembangan janin
  • Risiko kanker

Plastik yang mulai meleleh juga dapat melepaskan monomer berbahaya seperti styrene, ethylene, dan propylene, yang bersifat neurotoksik dan karsinogenik.

Tak hanya itu, gesekan dan panas saat memasak dapat menyebabkan pelepasan mikroplastik yang ikut tertelan bersama makanan. Partikel ini dapat masuk ke aliran darah dan mengendap di jaringan tubuh, memicu stres oksidatif, peradangan kronis, dan gangguan metabolik.***

Editor : Syafira

Sumber : CNBCIndonesia.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel