Mengapa Gen Z Sulit Nyambung dengan Dunia Kerja Konvensional

Generasi Z
ilustrasi Generasi Z sedang bekerja (foto: istock)

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Generasi Z tumbuh dalam dunia yang serba cepat, digital, dan penuh pilihan. Mereka dikenal sebagai generasi yang memegang teguh nilai-nilai pribadi, termasuk dalam urusan pekerjaan. Namun, di balik semangat itu, muncul jurang pemahaman antara mereka dan dunia korporasi.

Sebuah studi di Amerika Serikat terhadap 77.000 responden menunjukkan bahwa nilai utama yang dipegang Gen Z adalah perawatan diri, keaslian dalam mengekspresikan diri, serta keinginan untuk membantu sesama.

Sementara itu, perusahaan umumnya masih menempatkan nilai seperti pencapaian, pembelajaran, dan kerja keras sebagai prioritas utama.

Advertisement

Kesenjangan ini tampak jelas ketika studi tersebut dibandingkan dengan survei terhadap 2.100 manajer perekrutan dari berbagai industri mulai dari teknologi, konsultasi, hingga perbankan. Hasilnya, hanya 2 persen Gen Z yang memiliki prioritas nilai yang sama dengan atasannya, sementara 98 persen lainnya tetap bertahan dengan prinsip mereka sendiri.

Benturan Nilai Antar Generasi

Fenomena ini menggambarkan pergeseran pandangan antar generasi. Mengutip CNBC, banyak Gen Z menilai nilai-nilai yang dipegang generasi sebelumnya, terutama para Baby Boomer (kelahiran 1946–1964), sudah tidak relevan lagi dengan kondisi dunia kerja saat ini.

Seorang lulusan baru yang membagikan komentarnya di TikTok menyebut bahwa generasinya enggan meniru pola pikir lama yang dianggap “merusak sistem”. Sementara itu, sebagian Gen Z merasa orang tua kerap menilai langkah anak muda sebagai hal yang sia-sia.

Pandangan ini turut disoroti oleh Suzy Welch, profesor dari Sekolah Bisnis Stern, New York University. Ia menilai bahwa hubungan antara perusahaan dan Gen Z kerap tidak selaras karena nilai-nilai keduanya belum menyatu.

Baca Juga :  Bawakan 'Lock It Down', Jennie BLACKPINK Picu Spekulasi Proyek Solo Baru

“Tidak ada yang ingin menekan nilai-nilai mereka (Gen Z), dan itu bisa dimengerti. Namun, kebanyakan orang tidak bisa hidup tanpa pekerjaan,” ujarnya.

Menurut Welch, kemunculan artificial intelligence (AI) juga memperumit situasi, karena banyak pekerjaan tingkat pemula kini semakin langka — posisi yang biasanya menjadi pintu masuk bagi generasi muda.

Tiga Saran untuk Gen Z: Menemukan Jalan Tengah

Welch kemudian memberikan beberapa saran bagi Gen Z agar bisa menavigasi dunia kerja dengan lebih bijaksana, tanpa harus mengorbankan sepenuhnya nilai yang mereka pegang.

1. Menilai Kebutuhan dan Keinginan

Gen Z, kata Welch, perlu memahami tujuan mereka dalam berkarier — apakah ingin mencari kekayaan atau mencapai titik “cukup”.

“Artinya, (kira-kira berapa) jumlah uang yang Anda inginkan dan butuhkan untuk merasa, ‘cukup’,” ujarnya.

Kesadaran tentang batas kecukupan ini dapat membantu mereka mengambil keputusan karier dengan lebih realistis: apakah tetap berpegang pada nilai idealis seperti perawatan diri, atau menyesuaikan diri dengan kebutuhan finansial.

2. Bekerja di Perusahaan yang Sesuai Nilai-Nilai

Bagi mereka yang ingin mempertahankan prinsip, Welch menyarankan agar mencari perusahaan yang memiliki visi serupa. Dunia kerja modern, katanya, semakin terbuka dengan nilai-nilai baru, termasuk keseimbangan hidup dan keberlanjutan.

Baca Juga :  UEA Tutup Wilayah Udara Imbas Serangan Iran ke Fasilitas AS

“Perusahaan sering kali mencari karyawan dengan syarat umum. Namun, jika mencari dengan spesifik, akan ada perusahaan yang bisa mengakomodasi nilai-nilai yang kita pegang,” jelasnya.

3. Belajar untuk Berkompromi

Bagi sebagian Gen Z, kompromi mungkin terdengar seperti menyerah. Namun menurut Welch, kompromi tidak berarti mengubah jati diri, melainkan strategi sementara untuk bertahan.

“Saya jarang menyarankan orang untuk mencoba mengubah nilai-nilai mereka. Ini seperti mengubah kepribadian; yang biasanya tidak akan bertahan lama,” katanya.

Ia menegaskan, jika situasi menuntut untuk segera bekerja, penting bagi Gen Z untuk menimbang ulang prioritas mereka. Nilai bisa disimpan sementara, tanpa harus hilang selamanya.

“Seberapa besar Anda menjalani hidup sesuai nilai-nilai Anda adalah salah satu pilihan paling personal dan berpengaruh yang pernah Anda buat. Pilihan itu dapat membentuk penghasilan, tujuan hidup, dan perjalanan karier Anda. Hadapilah pilihan itu bukan dengan panik atau pasrah, melainkan dengan kebijaksanaan, baik untuk waktu yang sudah dilewati maupun untuk masa yang akan datang,” tutup Welch.

Menjembatani Idealisme dan Realita

Di tengah dunia kerja yang terus berubah, generasi muda kini dihadapkan pada dilema antara idealisme dan kebutuhan.

Namun, di balik perbedaan nilai dan pandangan, ada peluang untuk membangun ruang kerja yang lebih manusiawi di mana nilai, empati, dan keseimbangan hidup tak lagi dianggap kelemahan, melainkan kekuatan baru dunia kerja masa depan.***

Editor : Syafira

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel