Minat Belajar Rendah, 59.778 Anak di Kabupaten Bogor Terancam Putus Sekolah

terancam putus sekolah
Ilustrasi anak putus sekolah. Foto : chatgpt.com

TIMETODAY.ID, BOGOR – Kabupaten Bogor menghadapi persoalan serius di sektor pendidikan. Sebanyak 59.778 anak usia sekolah terancam putus sekolah pada tahun ajaran 2025.

Data tersebut bersumber dari Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang diakses Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Kabupaten Bogor. Ribuan anak itu tidak memiliki riwayat pendidikan, baik perpindahan sekolah maupun keberlanjutan ke jalur formal dan nonformal.

Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor Yanto Pradipta mengatakan, persoalan anak tidak sekolah sudah menjadi isu nasional dan masuk dalam indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM) pendidikan.

Advertisement
Baca Juga :  Gara-Gara Kebijakan Gubernur Jabar, Ratusan Sopir Angkot Puncak Merugi Saat Lebaran

“Kabupaten Bogor masih rendah angka putus sekolahnya. Salah satu upaya kami untuk mengangkat angka total lama sekolah adalah mendorong anak-anak yang tidak sekolah agar mau bersekolah,” kata Yanto di Bogor, Sabtu (11/10/2025).

Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor berupaya mendorong semua kelompok usia agar kembali bersekolah. Anak usia produktif didorong kembali ke sekolah formal seperti SMP dan SMA. Adapun mereka yang di atas usia sekolah ditempatkan di PKBM di setiap kecamatan.

Yanto menegaskan, penanganan masalah ini memerlukan kerja sama lintas sektor. Pada tahun ini, Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor baru memulai pendataan bersama pemerintah kecamatan, desa, kelurahan, hingga RT dan RW. Setelah data terkumpul, akan dilakukan pendekatan sosial agar anak-anak mau kembali bersekolah.

Baca Juga :  Kronologi Tukang Bangunan di Bogor Tersengat Listrik saat Mengecat Gedung Klinik

Menurut Yanto, faktor utama tingginya angka anak tidak sekolah adalah kurangnya minat belajar dan masalah ekonomi. Selain itu, hasil penerimaan peserta didik baru tahun ini juga menjadi penyebab. Sebagian siswa yang tidak diterima di sekolah negeri memilih menunggu tahun berikutnya atau tidak melanjutkan sekolah.

Kondisi ini menjadi perhatian serius mengingat Indonesia diperkirakan memasuki bonus demografi pada 2045.

Editor : B. Supriyadi

Wartawan : Amelia Azizah

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel